Kisah Berhikmah
Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 7
Bergantung pada manusia suatu saat kita akan kecewa dan menyesal, namun bergantung pada Allah akan menghadirkan kekuatan hakiki. Itulah yang dibuktikan oleh Maimunah setelah kematian John.
Panas terik diluar membuat Rahim memilih beristirahat dikamarnya
siang itu sepulang sekolah, terdengar sang ibu memangilnya.
“Rahim, bisakah batamang mama
sabantar sore?” (Rahim, bisakah temani ibu sebentar sore?)
“Bisa mama, mo pigi mana?” (Bisa
mama, mau kemana?) Tanya Rahim.
“Tong pigi baku lia ngana pe papa, dolo”.
(Kita pergi mengunjungi bapakmu sebentar) Terang Maimunah.
Sesuai dengan namanya, Rahim. Anak ini
termasuk anak yang perhatian dengan orang-orang terdekatnya terutama sang ibu.
Lahir sebagai anak semata wayang dari ibu dan ayahnya, tidak membuat ia manja. Saat
ini Rahim adalah satu-satunya fokus hidup Maimunah.
Sore itu dipemakaman, tampak ramai
orang yang berziarah, ini memang kebiasaan ditempat tinggal mereka setiap kamis
sore untuk berziarah kubur. Disalah satu gundukan tanah kuburan tampak dua
orang sedang serius memanjatkan do’a untuk Sang Penghuni. Di nisan kuburan itu
tertulis “Kapten. Yusuf John Theodor”. Nama yang terpatri kuat diingatan
Maimunah, perlahan-lahan membawa ingatannya ke masa lalu.
***
Kapal Perang besar milik TNI itu
pelan tapi pasti merapat ke dermaga, wajah orang-orang yang sejak pagi menunggu
terlihat tidak sabar. Cuaca jam 11 siang yang saat itu terasa mulai menyengat,
keringat-keringat mengalir di wajah mereka yang menunggu tanpa naungan di tepi
dermaga. Maimunah adalah salah satu dari mereka, berusaha menghalau panas
dengan menarik ujung jilbab agar menutupi muka dari teriknya matahari. Para
tentara siaga untuk mengatur arus naik para penumpang.
“Maimunah, sini tasnya saya bawa.”
John menawarkan bantuan saat para penumpang bergerak naik ke kapal.
John berjalan menerobos penumpang
disusul Mimunah dibelakangnya, penumpang padat dan sebagian orang kesulitan
mendapatkan tempat untuk merebahkan diri. Ada yang menggelar tikar disetiap
area yang memungkinkan. Beruntung Maimunah diberi John matras untuk mengalas
tubuhnya ketika melantai dikapal itu.
Kapal bergerak meninggalkan dermaga,
berbagai macam ekspresi ditampilkan dari wajah setiap pengungsi yang ada di
kapal itu. Ada yang sedih meninggalkan tanah kelahiran, ada yang lega berhasil
lolos dari kerusuhan tragis dan ada yang
sulit untuk menempatkan suasana hati entah bahagia, lega ataukah sedih tak
terkecuali Maimunah. Setelah memastikan Maimunah menemukan tempat yang aman
dikapal, John pamit padanya untuk
bergabung dengan pasukannya.
“Terima kasih”. Seru Maimunah
Hanya sepotong kata itu yang dapat ia ucapkan saat lelaki itu hendak berjalan menjauhinya, menurutnya saat
ini tidak ada kata yang lebih tepat ia ucapkan selain itu. Kapal berlayar
membelah lautan menuju pulau harapan.
Bersambung
Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar