Dilihat

Minggu, 06 Oktober 2019

Gantungkan Harapan Hanya Pada Allah, Karena Yang Bergantung PadaNya Tak Akan Menyesal

Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 7

Bergantung pada manusia suatu saat kita akan kecewa dan menyesal, namun bergantung pada Allah akan menghadirkan kekuatan hakiki. Itulah yang dibuktikan oleh Maimunah setelah kematian John.

Panas terik diluar membuat Rahim memilih beristirahat dikamarnya siang itu sepulang sekolah, terdengar sang ibu memangilnya.

“Rahim, bisakah batamang mama sabantar sore?” (Rahim, bisakah temani ibu sebentar sore?)

“Bisa mama, mo pigi mana?” (Bisa mama, mau kemana?) Tanya Rahim.

“Tong pigi baku lia ngana pe papa, dolo”. (Kita pergi mengunjungi bapakmu sebentar) Terang Maimunah.

Sesuai dengan namanya, Rahim. Anak ini termasuk anak yang perhatian dengan orang-orang terdekatnya terutama sang ibu. Lahir sebagai anak semata wayang dari ibu dan ayahnya, tidak membuat ia manja. Saat ini Rahim adalah satu-satunya fokus hidup Maimunah.

Sore itu dipemakaman, tampak ramai orang yang berziarah, ini memang kebiasaan ditempat tinggal mereka setiap kamis sore untuk berziarah kubur. Disalah satu gundukan tanah kuburan tampak dua orang sedang serius memanjatkan do’a untuk Sang Penghuni. Di nisan kuburan itu tertulis “Kapten. Yusuf John Theodor”. Nama yang terpatri kuat diingatan Maimunah, perlahan-lahan membawa ingatannya ke masa lalu.

***

Kapal Perang besar milik TNI itu pelan tapi pasti merapat ke dermaga, wajah orang-orang yang sejak pagi menunggu terlihat tidak sabar. Cuaca jam 11 siang yang saat itu terasa mulai menyengat, keringat-keringat mengalir di wajah mereka yang menunggu tanpa naungan di tepi dermaga. Maimunah adalah salah satu dari mereka, berusaha menghalau panas dengan menarik ujung jilbab agar menutupi muka dari teriknya matahari. Para tentara siaga untuk mengatur arus naik para penumpang.

“Maimunah, sini tasnya saya bawa.” John menawarkan bantuan saat para penumpang bergerak naik ke kapal.

John berjalan menerobos penumpang disusul Mimunah dibelakangnya, penumpang padat dan sebagian orang kesulitan mendapatkan tempat untuk merebahkan diri. Ada yang menggelar tikar disetiap area yang memungkinkan. Beruntung Maimunah diberi John matras untuk mengalas tubuhnya ketika melantai dikapal itu.

Kapal bergerak meninggalkan dermaga, berbagai macam ekspresi ditampilkan dari wajah setiap pengungsi yang ada di kapal itu. Ada yang sedih meninggalkan tanah kelahiran, ada yang lega berhasil lolos dari kerusuhan tragis  dan ada yang sulit untuk menempatkan suasana hati entah bahagia, lega ataukah sedih tak terkecuali Maimunah. Setelah memastikan Maimunah menemukan tempat yang aman dikapal, John pamit padanya  untuk bergabung dengan pasukannya.

“Terima kasih”. Seru Maimunah

Hanya sepotong kata itu yang dapat ia ucapkan saat lelaki itu hendak berjalan menjauhinya, menurutnya saat ini tidak ada kata yang lebih tepat ia ucapkan selain itu. Kapal berlayar membelah lautan menuju pulau harapan.

Bersambung

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...