![]() |
| Danau Tolire, foto: Boby Hamsyir |
Galeri Malut
Cerita Rakyat Ternate: Legenda Danau
Tolire , Tolire Gam Jaha (Lubang
Kampung yang Tenggelam)
Firasat apakah ini ? Ada sesuatu
yang mengganjal di pikiranku, namun tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Seperti ada bisikan ditelingaku bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kampung
ini. Beberapa waktu kemarin kudengar desas-desus warga kampung menceritakan
tentang hubungan terlarang Paitua basar
(Pemimpin terpandang) dengan Ana Jujaro (Anak gadis) sendiri.
Sebenarnya berita yang kudengar itu
membuatku tak percaya, dia adalah pemimpin terhormat dan terpandang serta
menjadi panutan di kampung ini. Paitua
tidak mungkin melakukan perbuatan tidak bermoral itu, namun semua prasangka
baikku ternyata tidak terbukti. Memang seperti itulah kenyataanya, Mama-mama di sekitar rumah Paitua melihat Sang Ana Jujaronya sekarang telah mengandung.
Oh Tuhan, musibah apa yang akan Engkau
turunkan di kampung ini, aku berharap keadaan akan baik-baik saja. Sebagian warga
kampung ini adalah orang baik, mereka tidak bersalah untuk menerima musibah
ini. Jika firasatku ini benar, kuharap ada yang bisa kulakukan untuk
menghindarkan kampung ini dari Bahala.
“Koa? Yang ngana waje ge gougou Jago?”
(Apa ? Benarkah yang kau bilang Jago?) Tanyaku kaget .
Jago, temanku yang sering
bersama-sama denganku dikampung ini mengabarkan tentang akan diadakannya pesta Rongge (tarian perayaan) oleh warga
kampung.
“Gougou hira. Doka ngana percaya ua,
lebe laha ngana tagi toma Balai la ise masirete ma” (Benar temanku, Kalau kau
tidak percaya, coba nanti jalan-jalan kesekitar Balai dan dengarkan sendiri)
Jawabnya sambil mengarahkan diriku
agar ikut dengannya ke Balai tempat warga desa berkumpul untuk mempersiapkan
segala sesuatu.
Dan benar saja, ternyata disana ada persiapan
pesta rongge untuk nanti malam.
Aku langsung berbalik arah pulang, mengambil posisi duduk di tempat favoritku.
Kupikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mencegah terjadinya musibah yang
kemungkinan datang. Aku takut mereka terlena dengan pesta dan tak bisa
mengantisipasi jika ada musibah.
Hari mulai gelap, aku sudah berada
diperaduan. Namun netraku sulit untuk terpejam, aku menerka cemas tentang kemungkinan
buruk dan perasaan tidak enak ini. Dari ujung kampung sayup-sayup terdengar
suara irisan Viol* dan tabuhan Gong serta Tifa* pertanda pesta telah dimulai. (*Alat musik tradisional daerah)
Malam telah larut suara-suara tawa
bercampur dengan suara musik, sepertinya kampung ini telah benar-benar larut dalam
pesta. Kupaksakan untuk menutup rapat mata dan telinga agar bisa tertidur,
namun ada suatu suara berbisik ditelingaku.
“Cepat ingatkan mereka ! Kampung ini
akan tenggelam setelah kaummu bersuara pertanda waktu sepertiga malam”.
Kubuka mata mencoba mencari asal
suara tadi, namun tak menemukan siapapun. Aku mengingat kembali kata-kata tadi
apakah benar atau hanyalah mimpi, tidak mungkin mimpi karena aku belum tertidur
saat dibisiki. Suasana gelap gulita disekelilingku, namun kupaksakan turun
untuk mencari Jago temanku. Ingin aku sampaikan kejadian tadi padanya. Belum
sempat kaki ini melangkah lebih jauh, seperti ada yang memaksa diriku untuk
segera berteriak diiringi suara teman-temanku dari sekitar.
“Kukkuruyuuuukkkk…”
“Tolire
gam Jahaaaaa …. Tolire gam jahaaaaa …” (Lubang kampung tenggelam)
Tanpa sadar mulutku berteriak
seperti ada yang menggerakkan, Mengingatkan bahwa sebentar lagi akan ada lubang
dengan pancaran air yang menenggelam kan kampung ini. Semua teman disekitarku
ikut bersuara.
“Kukkuruyuuuuukkkk…”
“Kukkuruyuuukkkk….”
Tanah berguncang kencang, segala
pohon dan bangunan disekitar roboh. Orang-orang panik, berlarian tak tentu
arah. Aku juga panik berusaha mencari tempat aman bersama teman-teman yang
lain.
Tiba-tiba tanah dibawah pijakan
orang-orang yang bingung dan berlari kesana kemari terbelah, air memancar
keluar dengan deras. Sekilas ku lihat orang-orang ikut terperosok kedalam
lubang yang mulai berair, tangan menggapai-gapai memohon pertolongan.
Sebagiannya kecil warga tidak ikut terperosok, mereka berlari ke arah pantai
aku mengikuti mereka. Namun ternyata kejadian yang sama terjadi di pantai.
Belahan tanah yang sedikit lebih kecil menenggelamkan kami yang berusaha
menyelamatkan diri ke tepi pantai.
Perlahan-lahan tubuh ini masuk
tersedot kedalam lubang berisi air itu, pandanganku terasa kabur, air membasahi
tubuh terendam dan gelap. Kampung Solea Takomi tenggelam bersama 141 warganya.
Oleh: Mardha Umagapi
Hasil improvisasi cerita rakyat
Danau Tolire, POV Ayam Jantan.
Ditulis di Subaim Halmahera Timur.
![]() |
| Danau Tolire Kecil, Foto: Boby Hamsyir |
![]() |
| Kegiatan melempar batu di Tolire Besar, foto: Fany |
Catatan: Danau Tolire adalah danau
kawah yang memiliki luas 500 X 700 meter. Terletak di Kota Ternate Maluku Utara
dengan jarak 4 Km dari pucak Gunung Api Gamalama. Salah Satu Hal Magis yang
sering dijumpai para wisatawan adalah kemunculan Buaya Putih yang katanya jelmaan
warga yang tenggelam. Hal menarik lainnya didanau ini
adalah, lemparan batu yang tak pernah mencapai pertengahan danau. Batunya akan
kembali ke sisi danau tempat melempar.
Sekarang sektor pariwisata di danau ini semakin digalakkan, Daripada penasaran, silahkan berkunjung.



bs setting cerita rakyat dengan tulisan pendek begini.. mantaappp
BalasHapusmakasih
HapusWah, bagus ceritanya mba,bicara tentang buaya putih, di kotaq mojokerto juga ada mitos ttg buaya putih, konin kalau ada acara besar di desa dia menjelma jadi mabusia, wallahualam tapi π
BalasHapusTerima kasih
HapusPenasaran soal biaya putih nya..keren kak. Salam hangat dari Konstantinopel
BalasHapusTerima kasih, ayo berkunjung ke Ternate
HapusDi tempatku juga ada cerita buaya putih yang menghuni Kali Pemali, yang konon katanya selalu disangkut pautkan dengan tenggelamnya korban di Kali Pemali. Kerenπ Salam kenal dari Konstantinopelπ
BalasHapussalam kenal juga
HapusTempat tempat wisata selalu memiliki cerita seru di balik kejadiannya/keberadaannya.
BalasHapusIya mbak
HapusKereenn.. Ceritanyaa.. Smoe skrng masih penasaran dgn cerita2 legenda zaman duluu. .ππ
BalasHapusMakasih
HapusKayak artikel tp cerita mantapss kaa baru tahu legenda ini terimakasih infonya salam kenal dr konstantinopel
BalasHapusπ
HapusWuihhh cerita buaya putih.
BalasHapusπ
HapusPingin ke Ternate, ke danau Tolire
BalasHapusAyo agendakan Bun ... π
HapusWah kapan bisa ke sana π€
BalasHapusKeren kak
Ayo agendakan ... π
HapusDapat pelajaran baru..keren nih Ternate..belum pernah kesana..kenapa batunya bisa balik ke sisi pelempar lagi ya kak?
BalasHapusBelum tau penyebabnya mbak
HapusPenasaran dengan buaya putih..
BalasHapusDan melempar batunya ke danau..
Wah bagus kak.. ππππ
Ayo ke Ternate mbak π
Hapus