Dilihat

Senin, 07 Oktober 2019

Nasihatilah Saudaramu Pada Tempatnya, Jangan di Ruang Publik



Catatan Sebuah momentum

Era informasi memberikan ruang untuk bersosialisasi bukan hanya dengan bertemu langsung. Bersosialisasi saat ini bisa dilakukan secara maya diberbagai aplikasi media sosial.

Karena medsos adalah ruang publik, jadi bukan tidak mungkin, hal-hal yang biasa terjadi ketika bertemu langsung dapat juga terjadi di dunia maya ketika daring. Termasuk perkara nasehat menasehati.

Menilik kembali kebiasaan nasehat menasehati melalui komentar di postingan. Banyak ditemui ketika seseorang mengirimkan sebuah postingan di wall atau feed nya terutama terkait dengan hal yang personal. Tak jarang akan banyak komentar yang dilayangkan, ada yang sepakat dan ada yang tidak sepakat kemudian menyampaikan nasihat untuk memperbaiki atau mengubah cara pandang.

Sah-sah saja untuk berkomentar, namun yang seharusnya diingat bahwa untuk menasehati kita punya adab dan etika. Meskipun kata bijak mengatakan "Nasehat itu seperti obat, pahit namun menyembuhkan". Tetapi sebaiknya pahit itu hanya dirasakan oleh dia diruang khusus penuh rasa persaudaraan. 

Karena karakter orang dalam menerima nasehat itu berbeda-beda, ada yang lapang dada dan ada yang merasa berat. Maka sudah seharusnya menasehati di ruang publik bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

"Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu"
(Imam Syafi'i).

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Minggu, 06 Oktober 2019

Legenda Danau Tolire : Sebuah Improvisasi Cerita Rakyat Dari Ternate

Danau Tolire, foto: Boby Hamsyir
Galeri Malut

Cerita Rakyat Ternate: Legenda Danau Tolire , Tolire Gam Jaha (Lubang Kampung yang Tenggelam)


Firasat apakah ini ? Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, namun tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Seperti ada bisikan ditelingaku bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kampung ini. Beberapa waktu kemarin kudengar desas-desus warga kampung menceritakan tentang hubungan terlarang Paitua basar  (Pemimpin terpandang) dengan Ana Jujaro (Anak gadis) sendiri.

Sebenarnya berita yang kudengar itu membuatku tak percaya, dia adalah pemimpin terhormat dan terpandang serta menjadi panutan di kampung ini. Paitua tidak mungkin melakukan perbuatan tidak bermoral itu, namun semua prasangka baikku ternyata tidak terbukti. Memang seperti itulah kenyataanya, Mama-mama di sekitar rumah Paitua melihat Sang Ana Jujaronya sekarang telah mengandung.

Oh Tuhan, musibah apa yang akan Engkau turunkan di kampung ini, aku berharap keadaan akan baik-baik saja. Sebagian warga kampung ini adalah orang baik, mereka tidak bersalah untuk menerima musibah ini. Jika firasatku ini benar, kuharap ada yang bisa kulakukan untuk menghindarkan kampung ini dari Bahala.

“Koa? Yang ngana waje ge gougou Jago?” (Apa ? Benarkah yang kau bilang Jago?) Tanyaku kaget .

Jago, temanku yang sering bersama-sama denganku dikampung ini mengabarkan tentang akan diadakannya pesta Rongge (tarian perayaan) oleh warga kampung.

“Gougou hira. Doka ngana percaya ua, lebe laha ngana tagi toma Balai la ise masirete ma” (Benar temanku, Kalau kau tidak percaya, coba nanti jalan-jalan kesekitar Balai dan dengarkan sendiri)

Jawabnya sambil mengarahkan diriku agar ikut dengannya ke Balai tempat warga desa berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu.

Dan benar saja, ternyata disana ada persiapan pesta rongge untuk nanti malam. Aku langsung berbalik arah pulang, mengambil posisi duduk di tempat favoritku. Kupikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mencegah terjadinya musibah yang kemungkinan datang. Aku takut mereka terlena dengan pesta dan tak bisa mengantisipasi jika ada musibah.

Hari mulai gelap, aku sudah berada diperaduan. Namun netraku sulit untuk terpejam, aku menerka cemas tentang kemungkinan buruk dan perasaan tidak enak ini. Dari ujung kampung sayup-sayup terdengar suara irisan Viol* dan tabuhan Gong serta Tifa* pertanda pesta telah dimulai. (*Alat musik tradisional daerah)

Malam telah larut suara-suara tawa bercampur dengan suara musik, sepertinya kampung ini telah benar-benar larut dalam pesta. Kupaksakan untuk menutup rapat mata dan telinga agar bisa tertidur, namun ada suatu suara berbisik ditelingaku.

“Cepat ingatkan mereka ! Kampung ini akan tenggelam setelah kaummu bersuara pertanda waktu sepertiga malam”.

Kubuka mata mencoba mencari asal suara tadi, namun tak menemukan siapapun. Aku mengingat kembali kata-kata tadi apakah benar atau hanyalah mimpi, tidak mungkin mimpi karena aku belum tertidur saat dibisiki. Suasana gelap gulita disekelilingku, namun kupaksakan turun untuk mencari Jago temanku. Ingin aku sampaikan kejadian tadi padanya. Belum sempat kaki ini melangkah lebih jauh, seperti ada yang memaksa diriku untuk segera berteriak diiringi suara teman-temanku dari sekitar.

“Kukkuruyuuuukkkk…”

Tolire gam Jahaaaaa …. Tolire gam jahaaaaa …” (Lubang kampung tenggelam)

Tanpa sadar mulutku berteriak seperti ada yang menggerakkan, Mengingatkan bahwa sebentar lagi akan ada lubang dengan pancaran air yang menenggelam kan kampung ini. Semua teman disekitarku ikut bersuara.

“Kukkuruyuuuuukkkk…”

“Kukkuruyuuukkkk….”

Tanah berguncang kencang, segala pohon dan bangunan disekitar roboh. Orang-orang panik, berlarian tak tentu arah. Aku juga panik berusaha mencari tempat aman bersama teman-teman yang lain.

Tiba-tiba tanah dibawah pijakan orang-orang yang bingung dan berlari kesana kemari terbelah, air memancar keluar dengan deras. Sekilas ku lihat orang-orang ikut terperosok kedalam lubang yang mulai berair, tangan menggapai-gapai memohon pertolongan.

Sebagiannya kecil warga tidak ikut terperosok, mereka berlari ke arah pantai aku mengikuti mereka. Namun ternyata kejadian yang sama terjadi di pantai. Belahan tanah yang sedikit lebih kecil menenggelamkan kami yang berusaha menyelamatkan diri ke tepi pantai.

Perlahan-lahan tubuh ini masuk tersedot kedalam lubang berisi air itu, pandanganku terasa kabur, air membasahi tubuh terendam dan gelap. Kampung Solea Takomi tenggelam bersama 141 warganya.

Oleh: Mardha Umagapi

Hasil improvisasi cerita rakyat Danau Tolire, POV Ayam Jantan.
Ditulis di Subaim Halmahera Timur.

Danau Tolire Kecil, Foto: Boby Hamsyir

Kegiatan melempar batu di Tolire Besar, foto: Fany


Catatan: Danau Tolire adalah danau kawah yang memiliki luas 500 X 700 meter. Terletak di Kota Ternate Maluku Utara dengan jarak 4 Km dari pucak Gunung Api Gamalama. Salah Satu Hal Magis yang sering dijumpai para wisatawan adalah kemunculan Buaya Putih yang katanya jelmaan warga yang tenggelam. Hal menarik lainnya didanau ini adalah, lemparan batu yang tak pernah mencapai pertengahan danau. Batunya akan kembali ke sisi danau tempat melempar.
Sekarang sektor pariwisata di danau ini semakin digalakkan, Daripada penasaran, silahkan berkunjung.

Ketika Perhatian Berbuah Penantian, Maka Tak Ada Cara Yang Lebih Baik Selain Meniti Jalan Menuju RidhoNya

Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung padaNya
Bagian 8


“Mama, Tanta Mita ada datang ini”. (Mama, Tante Mita datang nih)

Panggil Rahim dari ruang tamu seraya bergerak menyalami sosok yang datang.

Maimunah menggerakkan kursi rodanya dari dalam kamar, ia baru saja selesai melaksanakan sholat dhuha. Diikuti suara anak semata wayangnya ke ruang tamu.

“Benarkah kata-kata Rahim tadi?” Batin Maimunah.

Satu sosok menyambutnya di depan pintu menuju ruang tamu.

“Kak Mai”. Sosok dengan suara itu kemudian merengsek kedepan memeluk Maimunah.

“Ya Allah, ade Mita. Bagimana kabar?” (Dek Mita Apa Kabar?). Maimunah menyambut dengan balas memeluk wanita itu.

Tamu wanita itu kemudian diajak keruang makan untuk disuguhi makanan, kebutulan sejak pagi ia telah memasak untuk siang. Tamu tak terduga itu menghadirkan rona bahagia diwajah Rahim dan Maimunah, wajahnya yang sangat mirip dengan orang yang mereka cintai membuat suasana terasa hangat dan rindu terobati.

***
Satu bulan sudah Maimunah tinggal di kota ini, seperti janjinya John menitipkan Maimunah di rumah salah satu saudaranya yang Muslim. Disana Maimunah memulai aktivitas dengan menjaga butik saudara John, mereka menjadikannya penjaga butik dengan pertimbangan ia tidak terlalu banyak bergerak , cukup dengan kursi roda kesana kemari. Hal itu dipercayakan kepadanya karena sifat Maimunah yang tak menginginkan mendapat segala sesuatu secara gratis dan tak ingin dikasihani, padahal sejak awal tinggal ia sebenarnya telah diminta untuk tidak perlu beraktivitas terlalu sering. Apalagi rumah keluarga itu memiliki ART yang siap melayani.

Sebenarnya butik itu dikelola oleh adik John, yang waktu itu lulus SMA belum lanjut kuliah, namanya Mita. Namun beberapa minggu setelah kedatangan Maimunah, ia berangkat untuk kuliah ke kota seberang. Jadilah Maimunah ganti posisi menjadi pengurus tunggal. Selama bersama di rumah tante Jenny, mereka berdua memiliki kecocokan karakter sehingga langsung dekat. Bahkan ketika sudah merantau untuk kuliahpun Mita sering bertukar kabar dengan mimunah lewat telepon rumah tante.

Matahari pagi bersinar cerah, Maimunah baru saja membuka butik dan memvakum beberapa bagian tempat itu agar bersih dari debu. Sebuah motor King kekinian berhenti di parkiran depan, tampak sosok dengan seragam tentara berjalan mendekat kearah butik. Melalui kaca jendela, Maimunah langsung mengenalinya.

Lelaki itu memang sejak mengantarnya ke tempat ini, ia tak pernah menampakkan diri hingga pagi ini. Maimunah sebenarnya rindu akan sosok itu, namun berusaha ditepis dengan kesibukan butik. Kata Tante Jenny bibi John yang telah Muslim karena menikah dengan suaminya, John sedang ikut pelatihan kedinasan disebuah tempat diluar kota sehingga hanya menitipkan salam untuk Maimunah.

“John ?” 

Serunya dengan secercah rona bahagia di wajah ketika John memasuki butik dan menyapanya dengan salam layaknya seorang Muslim.

“Assalamualaikum, Mai”.

Baru kali ini John mengubah nama panggilan terhadap Maimunah, dan itu membuatnya sedikit merasa canggung  bahkan gugup.

Bersambung

Oleh: Mardha Umagapi

Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Gantungkan Harapan Hanya Pada Allah, Karena Yang Bergantung PadaNya Tak Akan Menyesal

Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 7

Bergantung pada manusia suatu saat kita akan kecewa dan menyesal, namun bergantung pada Allah akan menghadirkan kekuatan hakiki. Itulah yang dibuktikan oleh Maimunah setelah kematian John.

Panas terik diluar membuat Rahim memilih beristirahat dikamarnya siang itu sepulang sekolah, terdengar sang ibu memangilnya.

“Rahim, bisakah batamang mama sabantar sore?” (Rahim, bisakah temani ibu sebentar sore?)

“Bisa mama, mo pigi mana?” (Bisa mama, mau kemana?) Tanya Rahim.

“Tong pigi baku lia ngana pe papa, dolo”. (Kita pergi mengunjungi bapakmu sebentar) Terang Maimunah.

Sesuai dengan namanya, Rahim. Anak ini termasuk anak yang perhatian dengan orang-orang terdekatnya terutama sang ibu. Lahir sebagai anak semata wayang dari ibu dan ayahnya, tidak membuat ia manja. Saat ini Rahim adalah satu-satunya fokus hidup Maimunah.

Sore itu dipemakaman, tampak ramai orang yang berziarah, ini memang kebiasaan ditempat tinggal mereka setiap kamis sore untuk berziarah kubur. Disalah satu gundukan tanah kuburan tampak dua orang sedang serius memanjatkan do’a untuk Sang Penghuni. Di nisan kuburan itu tertulis “Kapten. Yusuf John Theodor”. Nama yang terpatri kuat diingatan Maimunah, perlahan-lahan membawa ingatannya ke masa lalu.

***

Kapal Perang besar milik TNI itu pelan tapi pasti merapat ke dermaga, wajah orang-orang yang sejak pagi menunggu terlihat tidak sabar. Cuaca jam 11 siang yang saat itu terasa mulai menyengat, keringat-keringat mengalir di wajah mereka yang menunggu tanpa naungan di tepi dermaga. Maimunah adalah salah satu dari mereka, berusaha menghalau panas dengan menarik ujung jilbab agar menutupi muka dari teriknya matahari. Para tentara siaga untuk mengatur arus naik para penumpang.

“Maimunah, sini tasnya saya bawa.” John menawarkan bantuan saat para penumpang bergerak naik ke kapal.

John berjalan menerobos penumpang disusul Mimunah dibelakangnya, penumpang padat dan sebagian orang kesulitan mendapatkan tempat untuk merebahkan diri. Ada yang menggelar tikar disetiap area yang memungkinkan. Beruntung Maimunah diberi John matras untuk mengalas tubuhnya ketika melantai dikapal itu.

Kapal bergerak meninggalkan dermaga, berbagai macam ekspresi ditampilkan dari wajah setiap pengungsi yang ada di kapal itu. Ada yang sedih meninggalkan tanah kelahiran, ada yang lega berhasil lolos dari kerusuhan tragis  dan ada yang sulit untuk menempatkan suasana hati entah bahagia, lega ataukah sedih tak terkecuali Maimunah. Setelah memastikan Maimunah menemukan tempat yang aman dikapal, John pamit padanya  untuk bergabung dengan pasukannya.

“Terima kasih”. Seru Maimunah

Hanya sepotong kata itu yang dapat ia ucapkan saat lelaki itu hendak berjalan menjauhinya, menurutnya saat ini tidak ada kata yang lebih tepat ia ucapkan selain itu. Kapal berlayar membelah lautan menuju pulau harapan.

Bersambung

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Sabtu, 05 Oktober 2019

Bersabarlah ! Karena Bukan Hidup Jika Tanpa Masalah

 
Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 6

Bukanlah hidup jika tanpa masalah karena hadirnya masalah memberikan kesempatan kepada setiap yang hidup untuk naik tingkat kemampuan menganalisanya. Allah menganugerahi satu sifat pada manusia yang jika digunakan maka mampu menjaganya dari pengaruh buruk suatu masalah serta mampu mendatangkan jalan keluar. Sifat itu adalah sabar, Allah SWT mengingatkan “Fashbir Shabran Jamiilah”.

Seperti kesabaran Maimunah menyikapi  setiap masalah dan ujian dalam hidupnya,. Dikala menjadi yatim piatu kehilangan orangtua, menjadi sebatang kara kehilangan Kakek Nenek hingga masalah kehilangan kabar dari lelaki yang akan memberikannya bantuan.

Sebuah suara memanggil Maimunah dari arah belakang, ketika menoleh ternyata itu John, lelaki yang sempat hilang kabar beberapa minggu ini. John berupaya menjelaskan terkait kepergian mendadaknya karena sang ibunda yang sakit dan harus didampinginya. Terkait rencananya untuk membawa Maimunah tinggal didaerahnya, John tetap mau melaksanakannya, ia sudah mengantongi izin dari ibunda dan juga sebagian saudaranya yang muslim. Mereka mensuport john untuk mengambil langkah itu. Sekarang semuanya tergantung keputusan Maimunah.

Sementara  Maimunah dengan segala masalahnya, ia sebenarnya khawatir ikut ajakan John. Disatu sisi ia adalah seorang Muslimah dan John bukan, membuatnya takut jika nanti mengkhianati Tuhannya. Disisi lain ia takut  keluarga John tidak berkenan dengan kehadirannya . Namun penjelasan John hari itu telah menambah kepercayaannya untuk mengambil keputusan.

John dan Maimunah berjalan beriringan menuju barak pengungsian setelah kelar agenda ziarah sore itu. Ada perasaan tenang pada hati Maimunah, setidaknya ia tak perlu khawatir ketika satu persatu tetangga barak pergi dan tiba gilirannya, ia juga harus pergi dengan tempat tujuan yang jelas.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Rabu, 02 Oktober 2019

Didiklah Anak dengan Nilai-Nilai Kebaikan, Suatu Saat Kebaikan Itu Akan Mengelilingi Hidupnya

Catatan Sebuah Momentum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 1 sampai 5 tahun adalah anak-anak dengan tingkat kemampuan meniru paling tinggi. Hampir semua perilaku lingkungan hidupnya menjadi bahan untuk ditiru.

Oleh karenanya, masa-masa ini menjadi peluang orangtua untuk meng-infiltrasi nilai-nilai kebaikan terhadap anak melalui contoh perilaku sehari-hari.

Mumpung masih kecil, keinginannya untuk diri sendiri belum banyak. Pilihan hidupnya masih bergantung kepada orangtua, maka bersegeralah menghadirkan kebiasaan-kebiasaan baik untuknya.

Karena jika pola pikirnya mulai berkembang,  pilihan untuk dirinya sendiri sudah mulai mendominasi pikiran dan tingkah laku, akan sulit untuk merubah. Seperti kata pepatah "Ala bisa karena biasa".

Intinya sebuah kebiasaan dimulai dari pembiasaan, dan pembiasaan yang baik melahirkan kebiasaan baik. Tidak ada kata terlambat untuk pembiasaan yang baik, trik kuncinya hanya kapan ia bisa menerima pembiasaan itu.

Buku seharga bakso, semoga hal kecil dan murah meriah ini bermanfaat menjadi kebiasaan baik dimasa depan.  Karena membiasakan kebaikan tak harus mahal.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Beware !
Postingan ini mengandung iklan 😄

Hati-Hati ! Masa Mudamu Akan Dihisab, Perhatikan Untuk Apa Kamu Menghabiskannya

Catatan Sebuah Momentum

Waktu adalah salah satu anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Diberikan kesempatan untuk memperbanyak bekal kebaikan selama di dunia. Salah satu nikmat waktu itu adalah saat masa muda, dimana fisik dan pikiran masih dalam kondisi bugar nan segar.

Kelak waktu yang dihabiskan diusia muda akan ditanya oleh Allah, dihabiskan untuk apakah waktu tersebut?

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)

Akankah habis untuk nongkrong sama teman melakukan hal sia-sia ataukah habis bersama pacar bicarakan yang topik yang belum halal. Mungkinkah habis untuk jalan-jalan bersama geng sosialita yang hanya untuk menghabiskan uang dan menghasilkan lelah.

Akan lebih beruntung jika waktu-waktu itu terisi dengan aktivitas kebaikan. Agenda penuh kebermanfaatan terhadap sesama.

Misalnya habis untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, kajian keislaman dan halaqah-halaqah ilmu Islam. Karena tempat seperti itu otomatis kita berkumpul bersama sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan untuk taat kepada Allah.

Atau habis untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuan, jauh lebih bermanfaat.

Manfaatkan waktu muda dengan baik sebelum diminta pertanggung jawaban oleh Nya. Berusahalah agar terhindar dari kerugian waktu di dunia.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr)

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...