Dilihat

Tampilkan postingan dengan label Galeri Haltim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Haltim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2019

Legenda Danau Tolire : Sebuah Improvisasi Cerita Rakyat Dari Ternate

Danau Tolire, foto: Boby Hamsyir
Galeri Malut

Cerita Rakyat Ternate: Legenda Danau Tolire , Tolire Gam Jaha (Lubang Kampung yang Tenggelam)


Firasat apakah ini ? Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, namun tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Seperti ada bisikan ditelingaku bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kampung ini. Beberapa waktu kemarin kudengar desas-desus warga kampung menceritakan tentang hubungan terlarang Paitua basar  (Pemimpin terpandang) dengan Ana Jujaro (Anak gadis) sendiri.

Sebenarnya berita yang kudengar itu membuatku tak percaya, dia adalah pemimpin terhormat dan terpandang serta menjadi panutan di kampung ini. Paitua tidak mungkin melakukan perbuatan tidak bermoral itu, namun semua prasangka baikku ternyata tidak terbukti. Memang seperti itulah kenyataanya, Mama-mama di sekitar rumah Paitua melihat Sang Ana Jujaronya sekarang telah mengandung.

Oh Tuhan, musibah apa yang akan Engkau turunkan di kampung ini, aku berharap keadaan akan baik-baik saja. Sebagian warga kampung ini adalah orang baik, mereka tidak bersalah untuk menerima musibah ini. Jika firasatku ini benar, kuharap ada yang bisa kulakukan untuk menghindarkan kampung ini dari Bahala.

“Koa? Yang ngana waje ge gougou Jago?” (Apa ? Benarkah yang kau bilang Jago?) Tanyaku kaget .

Jago, temanku yang sering bersama-sama denganku dikampung ini mengabarkan tentang akan diadakannya pesta Rongge (tarian perayaan) oleh warga kampung.

“Gougou hira. Doka ngana percaya ua, lebe laha ngana tagi toma Balai la ise masirete ma” (Benar temanku, Kalau kau tidak percaya, coba nanti jalan-jalan kesekitar Balai dan dengarkan sendiri)

Jawabnya sambil mengarahkan diriku agar ikut dengannya ke Balai tempat warga desa berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu.

Dan benar saja, ternyata disana ada persiapan pesta rongge untuk nanti malam. Aku langsung berbalik arah pulang, mengambil posisi duduk di tempat favoritku. Kupikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mencegah terjadinya musibah yang kemungkinan datang. Aku takut mereka terlena dengan pesta dan tak bisa mengantisipasi jika ada musibah.

Hari mulai gelap, aku sudah berada diperaduan. Namun netraku sulit untuk terpejam, aku menerka cemas tentang kemungkinan buruk dan perasaan tidak enak ini. Dari ujung kampung sayup-sayup terdengar suara irisan Viol* dan tabuhan Gong serta Tifa* pertanda pesta telah dimulai. (*Alat musik tradisional daerah)

Malam telah larut suara-suara tawa bercampur dengan suara musik, sepertinya kampung ini telah benar-benar larut dalam pesta. Kupaksakan untuk menutup rapat mata dan telinga agar bisa tertidur, namun ada suatu suara berbisik ditelingaku.

“Cepat ingatkan mereka ! Kampung ini akan tenggelam setelah kaummu bersuara pertanda waktu sepertiga malam”.

Kubuka mata mencoba mencari asal suara tadi, namun tak menemukan siapapun. Aku mengingat kembali kata-kata tadi apakah benar atau hanyalah mimpi, tidak mungkin mimpi karena aku belum tertidur saat dibisiki. Suasana gelap gulita disekelilingku, namun kupaksakan turun untuk mencari Jago temanku. Ingin aku sampaikan kejadian tadi padanya. Belum sempat kaki ini melangkah lebih jauh, seperti ada yang memaksa diriku untuk segera berteriak diiringi suara teman-temanku dari sekitar.

“Kukkuruyuuuukkkk…”

Tolire gam Jahaaaaa …. Tolire gam jahaaaaa …” (Lubang kampung tenggelam)

Tanpa sadar mulutku berteriak seperti ada yang menggerakkan, Mengingatkan bahwa sebentar lagi akan ada lubang dengan pancaran air yang menenggelam kan kampung ini. Semua teman disekitarku ikut bersuara.

“Kukkuruyuuuuukkkk…”

“Kukkuruyuuukkkk….”

Tanah berguncang kencang, segala pohon dan bangunan disekitar roboh. Orang-orang panik, berlarian tak tentu arah. Aku juga panik berusaha mencari tempat aman bersama teman-teman yang lain.

Tiba-tiba tanah dibawah pijakan orang-orang yang bingung dan berlari kesana kemari terbelah, air memancar keluar dengan deras. Sekilas ku lihat orang-orang ikut terperosok kedalam lubang yang mulai berair, tangan menggapai-gapai memohon pertolongan.

Sebagiannya kecil warga tidak ikut terperosok, mereka berlari ke arah pantai aku mengikuti mereka. Namun ternyata kejadian yang sama terjadi di pantai. Belahan tanah yang sedikit lebih kecil menenggelamkan kami yang berusaha menyelamatkan diri ke tepi pantai.

Perlahan-lahan tubuh ini masuk tersedot kedalam lubang berisi air itu, pandanganku terasa kabur, air membasahi tubuh terendam dan gelap. Kampung Solea Takomi tenggelam bersama 141 warganya.

Oleh: Mardha Umagapi

Hasil improvisasi cerita rakyat Danau Tolire, POV Ayam Jantan.
Ditulis di Subaim Halmahera Timur.

Danau Tolire Kecil, Foto: Boby Hamsyir

Kegiatan melempar batu di Tolire Besar, foto: Fany


Catatan: Danau Tolire adalah danau kawah yang memiliki luas 500 X 700 meter. Terletak di Kota Ternate Maluku Utara dengan jarak 4 Km dari pucak Gunung Api Gamalama. Salah Satu Hal Magis yang sering dijumpai para wisatawan adalah kemunculan Buaya Putih yang katanya jelmaan warga yang tenggelam. Hal menarik lainnya didanau ini adalah, lemparan batu yang tak pernah mencapai pertengahan danau. Batunya akan kembali ke sisi danau tempat melempar.
Sekarang sektor pariwisata di danau ini semakin digalakkan, Daripada penasaran, silahkan berkunjung.

Senin, 23 September 2019

Sampah Kali Muria Subaim Halmahera Timur, Di Libas Habis Oleh Relawan PIK R OSIS SMAN 2


Galeri Haltim.

Keberadaan sebuah institusi pendidikan sudah selayaknya memberikan kebermanfaatan di lingkungan sekitar, baik itu dari segi perbaikan moral maupun kelestarian lingkungan. Penanaman eksistensi itulah yang coba dilakukan oleh siswa-siswi yang tergabung dalam OSIS SMA Negeri 2 Halmahera Timur. Dalam program mereka PIK R atau yang di sebut Pusat Informasi Konseling Remaja, para siswa ini turun ke lingkungan sekitar untuk melakukan bakti sosial (BakSos)

Di hari Minggu 22 September 2019 kemarin, titik BakSos yang dipilih adalah salah satu jalur sungai didaerah Subaim Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara yang biasa disebut warga setempat dengan nama Kali Muria. Agenda BakSos dimulai pagi hari dan berakhir saat matahari mulai memancarkan sinar yang menyengat kulit.

Sebagian besar sampah telah diangkat oleh mereka dari bantaran sungai, sampah-sampah yang tertumpuk disana adalah sampah rumah tangga hasil dari pembuangan sampah masyarakat sekitar. Memang diperlukan kesadaran masyarakat terkait tata kelola sampah rumah tangga, sehingga tidak ada lagi yang membuang sampah disembarang tempat terutama bantaran sungai dan saluran pembuangan air lainnya seperti parit atau selokan.


Difoto adalah bagian kecil dari sampah yang mereka bersihkan, sampah POSPAK atau Popok Sekali Pakai memang termasuk sampah dengan jenis pencemaran lingkungan yang tinggi jika dibuang disungai. Kenapa ? karena merusak ekosistem sungai, mulai dari pencemaran airnya, mengganggu habitat mahluk hidup disungai dan parahnya lagi, jenis bahan yang tidak bisa terurai mengakibatkkan penumpukan dibantaran sungai lalu memperkecil jalan air.

Agenda dari pagi hingga siang kemarin dengan membersihkan sebagian besar sampah dijalur Kali Muria sedikit banyak telah membantu melancarkan saluran air sungai sehingga ketika musim hujan tiba, banjir akibat sumbatan sampah-sampah tadi dapat terelakkan. Anak-anak usia remaja ini terlihat bersemangat dengan aktivitas tersebut, memang awalnya sampah-sampah itu terasa jijik bagi mereka untuk disentuh namun rasa kepedulian lingkungan yang terbangun mengalahkannya.

Yang menjadi catatan penting dari rasa kepedulian siswa-siswi ini, jangan sampai sia-sia karena kurangnya kesadaran masyarakat terkait sampah dan lingkungan. Perlu adanya kegiatan sosialisasi dan edukasi dari pihak terkait kepada masyarakat tentang masalah sampah.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Sabtu, 21 September 2019

OSIS SMAN 2 Halmahera Timur Menghadirkan Kebiasaan Baik Dengan Mentoring

Galeri Haltim.


Seperti kata bijak, "Ilmu bukan hanya diperoleh dibangku kelas, tetapi ilmu itu bertebaran dimana-mana bagi yang mau mempelajarinya". Hari Jum'at tanggal 20 September 2019 kemarin menjadi pilihan hari bagi siswa-siswi SMA Negeri 2 Halmahera Timur Maluku Utara, untuk bermajelis ilmu dalam balutan Mentoring Keislaman di Mushala sekolahnya.

Mentoring yang merupakan program Bidang Rohani Islam OSIS SMAN 2 ini, memang direncanakan pelaksanaannya setiap pekan pada hari Jum'at. Kegiatan yang berdurasi kurang lebih satu jam ini dimulai dari pukul 10.30 WIT. 


Tema Mentoring pekan ini tentang "Hizbussyaitan" yang disampaikan oleh Ibu Lisma M. Saing, SS. Salah satu staf pengajar di SMAN 2. Pemilihan tema kali mengangkat pembahasan seputar keharusan mengikuti kelompok kebaikan. Karena di dunia ini Allah ciptakan kelompok kebaikan dan kejahatan, dimana kebaikan dilatarbelakangi oleh petunjuk dari Allah sedangkan kejahatan ditunggangi oleh bujuk rayunya syaitan.

Sebagaimana tujuan kegiatan Mentoring ini, para siswa diberikan tambahan pengetahuan agama Islam selain melalui pelajaran agama disekolah. Sehingga siswa-siswi lebih terbekali dari segi rohani untuk menghadapi tantangan zaman kedepan.

Sebuah program kerja OSIS yang menarik. Menurut pengurusnya, program ini telah ada dari tahun ke tahun. Saat ini mereka hanya meneruskan program tersebut karena melihat manfaat yang besar untuk siswa-siswi di SMAN 2 Halmahera Timur.

Bagaimana menurut pembaca ? Program ini layak untuk dicontoh oleh OSIS disekolah lain bukan ? Semoga menginspirasi.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur.

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...