Dilihat

Tampilkan postingan dengan label Catatan Sebuah Momentum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Sebuah Momentum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Agustus 2021

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

 


Ciri-ciri Penghuni Surga

1. Takut pada Allah

2. Mengendalikan hawa nafsu

3. Terlibat dalam dakwah

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42) فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43) إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44) إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45) كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah kejadiannya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari."

{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى}
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (An-Nazi'at: 40)
Yaitu takut akan hari ia dihadapkan kepada Allah Swt. dan takut akan keputusan Allah terhadap dirinya di hari itu, lalu ia menahan hawa nafsunya dan tidak memperturutkannya serta menundukkannya untuk taat kepada Tuhannya.
{فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (An-Nazi'at: 41)
Yakni sebagai tempat berpulangnya; surga yang luaslah tempat kembalinya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
{يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا}
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (An-Nazi'at: 42-44)
Artinya, pengetahuan tentang waktunya bukan dikembalikan kepadamu dan bukan pula kepada seseorang makhluk, melainkan pengetahuan mengenainya hanyalah ada di tangan Allah Swt. Dialah Yang mengetahui waktunya dengan tepat.
ثَقُلَتْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْئَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْها قُلْ إِنَّما عِلْمُها عِنْدَ اللَّهِ
Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah.” (Al-A'raf: 187)
Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا}
Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (An-Nazi'at: 44)
Karena itulah ketika Jibril a.s. bertanya kepada Rasulullah Saw., maka beliau Saw. menjawabnya dengan perkataan:
"مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ".
Tidaklah orang yang ditanya mengenai waktu kedatangannya lebih mengetahui daripada orang yang menanyakannya.
Firman Allah Saw.:
{إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا}
Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). (An-Nazi'at: 45)
Yakni sesungguhnya Aku mengutusmu Muhammad hanyalah agar engkau memberi peringatan kepada manusia dan memperingatkan mereka akan pembalasan dan azab Allah. Maka barang siapa yang takut kepada Allah dan takut akan kedudukan Allah dan ancaman-Nya, niscaya ia mengikutimu dan beruntunglah dia serta beroleh kemenanganlah dia. Dan kerugian serta kekecewaan pasti akan menimpa orang-orang yang menentang dan mendustakanmu.
Firman Allah Swt.:
{كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا}
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (An-Nazi'at: 46)

Yaitu apabila mereka dibangkitkan dari kuburnya masing-masing, lalu digiring ke padang mahsyar, maka saat itulah mereka merasa amat pendek dan singkatnya masa tinggal mereka di dunia, sehingga seakan-akan menurut mereka hanya tinggal selama suatu pagi atau suatu sore hari saja.
Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (An-Nazi'at: 46) Bahwa yang dimaksud dengan sore hari ialah jarak waktu mulai dari lohor sampai dengan terbenamnya matahari. Sedangkan yang dimaksud dengan pagi hari ialah jarak waktu antara terbitnya matahari sampai dengan pertengahan siang hari.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa ini menggambarkan tentang masa tinggal di dunia menurut pandangan manusia ketika mereka menyaksikan dengan nyata alam akhirat.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Minggu, 25 Juli 2021

Menghindari Perbuatan Melampaui Batas: Tadabbur An Nazi'at Ayat 34-39

 

Pict by: IG Yuk Dakwah

Perbuatan melampaui batas adalah perbuatan ahli Neraka yang perlu dihindari.

An Nazi'at ayat 34-39 berisi tentang Beberapa poin penting:

1. Kepastian balasan amal

2. Ciri-ciri penghuhi neraka jahim

    a. Melampaui batas

    b. Mengutamakan dunia 

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى (35) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى (36) فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) 
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). 
Firman Allah Swt.:
{فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى}
Maka apabila malapetaka yang sangat besar telah datang. (An-Nazi'at: 34)
Yang dimaksud dengannya adalah hari kiamat. Ibnu Abbas mengatakan bahwa hari kiamat disebut demikian karena pada hari itu banyak terjadi semua peristiwa yang dahsyat lagi sangat mengerikan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَالسَّاعَةُ أَدْهى وَأَمَرُّ
dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Al-Qamar: 46)
Adapun firman Allah Swt.:
{يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ مَا سَعَى}
Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. (An-Nazi'at: 35)
Yakni pada hari itu manusia teringat semua kebaikan dan keburukan yang telah dikerjakannya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرى
dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr: 23)
Firman Allah Swt.:
{وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى}
dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (An-Nazi'at: 36)
Yaitu neraka ditampakkan, sehingga semua manusia dapat melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.
{فَأَمَّا مَنْ طَغَى}
Adapun orang yang melampaui batas (An-Nazi'at: 37)
Maksudnya, membangkang dan berlaku sewenang-wenang.
{وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا}
dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (An-Nazi'at: 38)
Yakni lebih memprioritaskannya daripada urusan agama dan bekal di akhiratnya.
{فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى}
maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Nazi'at: 39)
Maka tempat kembalinya adalah neraka Jahim, dan makanannya adalah buah zaqqum, sedangkan minumannya adalah air yang mendidih lagi sangat panas.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Senin, 19 Juli 2021

Optimis Pada Kemenangan Dakwah ( Tadabbur An Naziat Ayat 15-33 )

Pict By: IG Tausiyah Cinta

Berisi tentang beberapa poin penting terkait aktivitas dakwah:

1. Bergegas menyambut seruan dakwah 

2. Mengambil pelajaran dari dakwah masa lalu

3. Mampu menyampaikan argumentasi dalam dakwah

4. Lemah lembut dalam berdakwah

5. Mentafakuri tanda tanda kekuasaan Allah di alam semesta


هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15) إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (17) فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19) فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى (20) فَكَذَّبَ وَعَصَى (21) ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى (22) فَحَشَرَ فَنَادَى (23) فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24) فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى (25) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى (26)

Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Tuwa, "Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menentang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata, "Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).

Allah Swt. menceritakan kepada Rasul-Nya—Nabi Muhammad Saw.— tentang hamba dan rasul-Nya Musa a.s. Bahwa Dia telah mengutusnya kepada Fir'aun dan Allah mengukuhkannya dengan mukjizat-mukjizat. Tetapi Fir'aun dengan adanya semua bukti itu tetap pada kekafiran dan tindakan sewenang-wenangnya, hingga Allah mengazabnya dengan azab dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Demikian pula akibat yang akan dialami oleh orang-orang yang menentangmu dan mendustakan apa yang engkau sampaikan.
{هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى}
Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) berita Musa. (An-Nazi'at: 15)
Yakni apakah engkau sudah mendengar kisahnya.
{إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ}
Tatkala Tuhannya memanggilnya. (An-Nazi'at: 16)
Yaitu Tuhan berbicara kepadanya dengan melalui seruan.
{بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ}
di lembah suci ialah Lembah Tuwa. (An-Nazi'at: 16)
Tuwa adalah nama lembah menurut pendapat yang sahih, seperti yang telah disebutkan dalam tafsir surat Taha. Lalu Allah Swt. berfirman kepadanya:
{اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى}
Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. (An-Nazi'at: 17)
Yakni bertindak sewenang-wenang, jahat, dan zalim.
{فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى}
Dan katakanlah (kepada Fir'aun), "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?” (An-Nazi'at: 18)
Maksudnya, katakanlah kepadanya bahwa maukah engkau kuajak untuk menempuh jalan yang akan membawamu untuk dapat menyucikan diri, yakni berserah diri dan taat kepada Allah Swt.
{وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ}
Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu. (An-Nazi'at: 19)
Yaitu akan kutunjukkan kepadamu cara menyembah Tuhanmu.
{فَتَخْشَى}
supaya kamu takut kepadanya. (An-Nazi'at: 19)
Yakni kelak hatimu akan menjadi tunduk patuh kepada-Nya dan khusyuk, yang sebelumnya hatimu keras, jahat, dan jauh dari kebaikan.
{فَأَرَاهُ الآيَةَ الْكُبْرَى}
Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. (An-Nazi'at: 20)
Musa menampakkan kepadanya selain dari seruan yang benar ini hujah (bukti) yang kuat dan dalil yang jelas yang membuktikan kebenaran apa yang disampaikannya, bahwa itu adalah dari sisi Allah.
{فَكَذَّبَ وَعَصَى}
Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. (An-Nazi'at: 21)
Fir'aun mendustakan kebenaran itu dan menentang ketaatan yang diperintahkan kepadanya. Kesimpulannya ialah hati Fir'aun mendustakanya dan batinnya tidak mau menerima apa yang disampaikan oleh Musa, begitu pula lahiriahnya dia tidak mau mengamalkanya. Padahal dia mengetahui bahwa apa yang disampaikan oleh Musa kepadanya adalah perkara yang hak (benar), tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang beriman kepada Musa. Karena pengetahuan itu merupakan pekerjaan hati, sedangkan iman itu adalah pengamalannya, yaitu patuh kepada perkara yang hak dan taat kepadanya.
Firman Allah Swt.:
{ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى}
Kemudian dia berpaling seraya berusaha menentang (Musa). (An-Nazi'at: 22)
Yakni sebagai reaksinya terhadap perkara yang hak, dia menentangnya dengan kebatilan, yang hal ini ia realisasikan dengan mengumpulkan para akhli sihir untuk menentang mukjizat yang jelas yang disampaikan oleh Musa a.s.
{فَحَشَرَ فَنَادَى}
Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru memanggil kaumnya. (An-Nazi'at: 23)
Fir'aun menyeru mereka semuanya untuk berkumpul kepadanya.
{فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى}
(Seraya) berkata, "Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (An-Nazi'at: 24)
Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan bahwa kalimat ini dikatakan oleh Fir'aun setelah selang empat puluh tahun. Dia mengatakan, "Aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain dari aku sendiri." Maka disebutkan oleh firman berikutnya:
{فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الآخِرَةِ وَالأولَى}
Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (An-Nazi'at: 25)
Allah menghukumnya dengan hukuman yang membuatnya menjadi pelajaran bagi orang lain yang membangkang terhadap perkara hak seperti dia di dunia ini. Yaitu azab di dunia dan azab di akhirat nanti. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah kalimat yang diucapkan oleh Fir'aun pada yang pertama kali dan kalimatnya pada yang kedua kali. Menurut pendapat yang lainnya lagi, kekufuran dan kedurhakaannya. Tetapi pendapat yang sahih dan tidak diragukan lagi adalah yang pertama tadi.
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى}
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (An-Nazi'at: 26)
Yakni bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan menyadarinya.



أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29) وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)
Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancarkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Allah Swt. berfirman, menyanggah orang-orang yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit, yaitu hari dihidupkan-Nya kembali semua makhluk sesudah fananya.
{أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ}
yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? (An-Nazi'at: 27)
Sebagai jawabannya ialah tidak demikian, langitlah yang lebih sulit penciptaannya daripada kalian. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
لَخَلْقُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia. (Al-Mu’min: 57)
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ
Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (Yasin: 81)
Adapun firman Allah Swt.:
{بَنَاهَا}
Allah telah membangunnya. (An-Nazi'at: 27)
kemudian ditafsirkan atau dijelaskan oleh firman selanjutnya:
{رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا}
Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya. (An-Nazi'at: 28)
Yakni Allah telah menjadikannya tinggi bangunannya, tak terperikan ketinggiannya, lalu semuakawasannyaamat luas dihiasi dengan bintang-bintang di malam yang gelap gulita.
Firman Allah Swt.:
{وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا}
dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. (An-Nazi'at: 29)
Yaitu Dia menjadikan malam harinya gelap dan siang harinya terang. Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna agtasya lailaha artinya menjadikan malamnya gelap gulita. Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, dan Jamaah yang cukup banyak jumlahnya.
{وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا}
dan menjadikan siangnya terang benderang. (An-Nazi'at: 29)
Artinya, menjadikannya terang. Selanjutnya disebutkan:
{وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا}
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (An-Nazi'at: 30)
yang hal ini diperjelas oleh firman berikutnya:
{أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا}
Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (An-Nazi'at: 31).
Dalam tafsir surat Ha Mim Sajdah telah diterangkan bahwa bumi diciptakan sebelum penciptaan langit, tetapi bumi baru dihamparkan sesudah langit diciptakan. Dengan kata lain, Allah Swt. baru mengeluarkan semua yang terkandung di dalam bumi dengan kekuasaan-Nya ke Alam wujud (setelah langit diciptakan). Demikianlah makna ucapan Ibnu Abbas dan yang lainnya yang bukan hanya seorang, kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayakku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah (yakni Ibnu Umar), dari Zaid ibnu Abu Anisah, dari Al-Minhal ibnu Amr dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna dahhaha, bahwa makna yang dimaksud ialah mengeluarkan mata airnya dan tetumbuhannya serta membelahjalan-jalan sungai-sungainya dan menjadikan padanya gunung-gunung, padang pasir, jalan-jalan, dan dataran-dataran tingginya. Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (An-Nazi'at: 30). Hal ini telah dijelaskan keterangannya sebelumnya.
Dan mengenai firman Allah Swt:
{وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا}
Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (An-Nazi'at: 32)
Yakni menetapkannya, mengokohkannya, dan meneguhkannya di tempatnya masing-masing; dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, lagi maha Pengasih kepada makhluk-Nya dan Maha Penyayang.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوشب، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ جَعَلَتْ تَمِيد، فَخَلَقَ الْجِبَالَ فَأَلْقَاهَا عَلَيْهَا، فَاسْتَقَرَّتْ فَتَعَجَّبَتِ الملائكةُ مِنْ خَلْقِ الْجِبَالِ فَقَالَتْ: يَا رب، فهل من خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْجِبَالِ؟ قَالَ نَعَمْ، الْحَدِيدُ. قَالَتْ: يَا رَبِّ، فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْحَدِيدِ؟ قَالَ: نَعَمْ، النَّارُ. قَالَتْ: يَا رَبِّ، فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: نَعَمْ، الْمَاءُ. قَالَتْ: يَا رَبِّ، فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْمَاءِ؟ قَالَ: نَعَمْ، الرِّيحُ. قَالَتْ: يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنَ الرِّيحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، ابْنُ آدَمَ، يَتَصَدَّقُ بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا مِنْ شَمَالِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Awam ibnu Hausyab, dari Sulaiman ibnu Abu Sulaiman, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Ketika Allah menciptakan bumi maka bumi berguncang, lalu Allah menciptakan gunung-gunung dan menempatkannya di atas bumi, maka bumi menjadi tenang. Para malaikat merasa kagum dengan penciptaan gunung-gunung itu, lalu berkata, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada gunung-gunung ini?” Allah Swt. menjawab, "Ya, ada, yaitu besi.” Para malaikat bertanya "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada besi?" Allah menjawab, "Ya, api.” Para malaikat bertanya, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari api?" Allah menjawab, "Ya, air.” Para malaikat bertanya, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada air?” Allah menjawab, "Ya, angin." Para malaikat bertanya, "Apakah ada sesuatu yang lebih kuat daripada angin di antara makhluk-Mu, wahai Tuhan kami?” Allah menjawab "Ya. anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia menyembunyikan dari tangan kirinya.”
Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Ata, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang mengatakan bahwa ketika Allah menciptakan bumi, maka bumi berguncang dan berkata, "Engkau akan menciptakan Adam dan keturunannya di atas permukaanku; mereka akan melemparkan kepadaku kekotorannya dan menyegerakan aku dalam melakukan perbuatan-perbuatan dosa." Maka Allah memantapkannya dengan gunung-gunung; maka di antaranya ada yang dapat kamu lihat, dan di antaranya lagi ada gunung-gunung yang tidak dapat kamu lihat. Dan permulaan tenangnya bumi adalah seperti daging unta yang telah disembelih, maka dagingnya kelihatan bergetar, kemudian diam. Tetapi asar ini garib sekali.
Firman Allah Swt.:
{مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ}
(semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian. (An-Nazi'at: 33)
Yaitu penghamparan bumi, mata air-mata airnya yang dikeluarkan, semua sumber dayanya dikeluarkan darinya, sungai-sungainya dialirkan, tanam-tanaman, dan pepohonannya ditumbuhkan dan dikukuhkan dengan gunung-gunung agar bumi menjadi teguh dan tetap, tidak mengguncangkan makhluk yang ada di atasnya; semuanya itu sebagai kesenangan bagi manusia dan semua keperluan mereka dari hewan ternak yang mereka makan dagingnya dan mereka jadikan sebagai kendaraan selama diperlukan oleh mereka di dunia ini, sampai masa yang tertentu.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

KESIMPULAN: 
Kemenangan dakwah adalah sesuatu yang pasti terjadi, dan itu adalah janji Allah. Yang jadi permasalahan adalah, kita termasuk orang-orang yang ikut serta dalam memenangkannya atau tidak. ataukah justru kita berada pada barisan orang yang menafikkan gerakan dakwah dan menjadi pribadi apatis/acuh dengan dakwah.
Jangan sampai kita hanya ingin mensolehkan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Sudah selayaknya kita hadir dan memberikan manfaat untuk masyarakat.
Sabda Nabi SAW " Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain".

Minggu, 16 Agustus 2020

Merdeka Cita: “Saat ayah bisa menjual hasil tani dengan harga yang sesuai sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita, ayah sudah merdeka”

Gambar: Angin, Herman Zambeck 2017

Oleh: Mardha Umagapi

Hari Kemerdekaan di Indonesia merupakan hari libur nasional yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus dan diperingati sebagai hari lahir Indonesia sebagai bangsa merdeka. “Hari Merdeka” merupakan istilah yang sering digunakan untuk memperingati hari ini.

Keluarga Cita mengisi hari ini dengan menginap dikebun menemani Sang Ayah yang bekerja dikebun kelapa mereka

“Yah, kenapa setiap tahun kita merayakan kemerdekaan di tanggal 17 Agustus?” Cita bertanya pada ayahnya.

“Karena ditanggal itu negara kita memproklamasikan kemerdekaan nak.” Jawab Sang Ayah.

“Proklamasi itu apa ayah?” Gadis mungil kelas satu SD itu kembali bertanya.

“Pengumuman. Seperti Cita yang diumumkan ibu guru disekolah TK bahwa mulai tahun ini sudah jadi murid SD. Jadi Cita Akhirnya boleh pakai seragam Putih Merah.”

“Begitu. Ayo… Kalo tidak diumumkan bagaimana Cita bisa tahu kalau sudah masuk SD, coba.” Ayah menjelaskan panjang.

“O… iya ya.” Celetuk Cita sembari tertawa renyah.

“Ayah, merdeka itu bagaimana?” Rasa penasaran terus memancing Cita untuk bertanya.

“Begini Nak…” Lanjut Ayahnya sambil menyeruput kopi hitam buatan ibu Cita pagi tadi.

“Merdeka kalau kita bebas melakukan kegiatan sehari-hari tanpa rasa takut akan ancaman dari orang lain. Kalau Cita mau sekolah bebas dimana saja setinggi-tingginya, tidak takut dilarang atau disuruh jangan sekolah.”

“Cita beruntung… Ketika masa penjajahan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan pendidikan dan bersekolah.”

“Anak-anak sekarang beruntung, bebas memilih mau jadi apa atau mau melakukan apa setelah tamat sekolah”. Lanjut Ayahnya.

“Berarti bebas ya Ayah… Kalau Cita bebas sekolah itu berarti merdeka. Kalau Ayah merdeka?” Ucapnya sambil memandang lelaki tersayangnya itu.

“Saat ayah bisa menjual hasil tani dengan harga yang sesuai sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita, ayah sudah merdeka”. Sang Ayah menjelaskan sembari membuang pandangan menyisir hamparan kebun kelapa yang telah dirawat keluarganya turun temurun.

Senin, Pojok Daulasi 17 Agustus 2020

Hari Merdeka ke-75

Minggu, 03 November 2019

Sebuah Biografi Singkat Tentang Setya Romana (PJ Group London)


Doc: By Setya
Awal-awal mengenalnya, ia termasuk salah satu dari sekian penanggung jawab (PJ) group yang saya kagumi semangatnya. Bagaimana tidak disamping berbagai kesibukannya di dunia akademik, ia masih menyempatkan diri mengambil tanggung jawab yang tak kalah sibuk sebagai seorang PJ. Untuk urusan bedah membedah karya tulis kami di setiap blog, dialah yang mengontrol. Tak jarang ketika kelelahan beraktivitas di kampuspun malamnya ia harus memastikan pembedahan tulisan berjalan sesuai jadwalnya.

Namanya Setya Romana terlahir sejak 4 Januari 21 tahun yang lalu disebuah desa di daerah Bantul. Gadis yang biasa disapa Tya oleh keluarga dan teman-temannya ini, menjalani aktivitas sehari-hari sebagai seorang mahasiswi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Selain memiliki hobi membaca, alumni SMTI Yogyakarta ini juga menggandrungi dunia kepenulisan di website blog nya. Ini terlihat dari aktivitas menulis blog yang ia geluti bersama ODOP-ers lainnya. Saat ini ia tengah melibatkan diri menjadi seorang penanggung jawab di sebuah group pelatihan menulis ODOP. Group tempatku belajar menulis dan menjadi blogger.

Wanita yang aktif bergerak dikampus sebagai asisten dosen beberapa mata kuliah ini, juga sedang meruntinkan diri menulis buku solo yang akan diterbitkan tahun depan. Sesuai dengan niat awalnya ketika bergabung di komunitas kepenulisan One Day One Post.

Aku biasa menyapanya dengan panggilan Mbak Setya, tulisan-tulisannya dapat dibaca di blog: setyaromana.blogspot.com . Sedangkan aktifitas onlinenya dapat diikuti di  FB dan IG dengan nama Setya R dan setyar30. Mbak Setya dapat dihubungi di alamat surel: setyaromana30@gmail.com .

Semangat dari kaum muda yang perlu dicontoh menurutku. Karena menjadi seorang pemuda yang notabenenya adalah seorang mahasiswa juga, tidak seharusnya membuat lupa bahwa ada pengalaman dan keterampilan diri yang perlu diasah diluar sana. Sehingga tidak membuat pemuda hanya menjadi insan kampus tapi juga insan akademis yang berbaur memasyarakat.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Senin, 28 Oktober 2019

Kebangkitan Pemuda Kunci Sukses Bangsa Ini

Catatan Sebuah Momentum

Disebuah bangunan yang bergaya Hindia Belanda, didaerah yang dikenal dengan nama Batavia berkumpullah para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara selama dua hari, dimulai dari tanggal 27 sampai dengan 28 Oktober 1928,mereka menyebutnya kongres pemuda.Namun ini bukanlah kongres yang pertama kali diadakan, karena para pemuda pernah berkumpul untuk hal yang sama pada dua tahun sebelumnya tepatnya 30 April - 2 Mei 1926. 

Terkumpul membentuk suatu pergerakan, terkumpul menyuarakan satu visi menegaskan cita-cita akan adanya tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. 
Hasil kongres ini lalu disebut Sumpah pemuda:

"Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia ". 

Tahun-tahun berlalu kini sejarah penting itu tiap tahun diperingati dan bahkan diadakan selebrasi, semoga bukan hanya ceremonial belaka atau sekedar ucapan selamat saja. Berharap ruh perjuangan yang waktu itu digaungkan para pendahulu tidak hanya tinggal sebagai catatan sejarah. 

Jika berkenan, ingin rasanya kejadian sejarah itu terulang kembali dalam pusaran waktu yang sama agar dapat diambil kembali semangat membara para pembuat sejarah itu. Biarkan generasi mencontoh, meresapi makna sumpah itu agar memberikan kekuatan jiwa dan raga untuk meneruskan perjuangan mereka para pendahulu.

Berharap tidak ada lagi pemuda apatis terhadap nasib bangsa, tidak ada lagi generasi yang sepanjang waktunya hanya dihabiskan berselancar dengan lempengan benda yang dinamakan gadget demi kesenangan mata. 

Berharap tidak ada lagi pemuda anarkis karena membela suatu kepentingan kelompok dengan pemikiran yang menggelapkan mata. 

Berharap tumbuh generasi muda yang berdedikasi tinggi untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dimata dunia, dan memiliki kesadaran bahwa kemajuan bumi pertiwi berada dipundaknya dimasa depan. 

Karena waktu terus berputar, sementara generasi tua memiliki batas waktu produktifnya maka pemuda berkarakter dibutuhkan disini dibangsa ini. 

Bukankah Bapak Proklamator kita Ir. Soekarno pernah berkata " Berikan aku 10 pemuda maka akan ku guncangkan dunia".

Siapapun yang merasa diri sebagai seorang pemuda dibangsa ini maka tanggung jawab itu jatuh kepadanya. Agar para pemuda dibangsa ini mau melihat bahwa moment sumpah pemuda bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang diingat  saat datang tanggalnya, tapi sebuah cambukan semangat untuk terus berkarya bagi bangsa. 

Oleh: Mardha Umagapi

Ditulis di Subaim Halmahera Timur
Tulisan lawas

Jumat, 11 Oktober 2019

Rahasia Baca Al Kahfi Dihari Jumat, Termasuk Juga Menghalau Pengaruh Jahat Dajjal

Catatan Sebuah Momentum

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan kepada setiap ummatnya untuk bergembira menyambut hari jum'at layaknya hari raya. Dimulai dari bangun lebih awal disaat sebagian manusia masih larut dalam tidur di sepertiga malam dan bermunajat kepada Allah, mandi dan membersihkan diri termasuk sunnah bersiwak dan memotong kuku, memakai baju terbaik, mendatangi mesjid lebih awal, memperbanyak do'a serta membaca surah Al Kahfi.

Poin yang terakhir ini merupakan, hal yang paling banyak dibagi dan bertebaran dimedia terutama media sosial. Dengan demikian bisa menjadi tolok ukur bahwa masyarakat muslim semakin banyak yang menyadari keutamaan membaca Surat Al Kahfi di hari jum'at. 

Apa sebenarnya yang berada dibalik anjuran untuk membaca Al Kahfi pada hari jum'at?

Kenapa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan kita membaca Al Kahfi setiap jum'at? 

Beberapa pertanyaan ini mungkin ada dibenak kita sekalian, terutama bagi yang baru mengenal anjuran ini. 
Dalam sebuah hadistnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan:
"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi.

Yang membaca akan disinari dua cahaya, cahaya yang merupakan penerang dan penuntun arah. Cahaya akan menuntun orang-orang yang mengamalkan anjuran Rasul, sehingga dapat membedakan yang haq dan yang bathil dimulai dari jum'at sejak ia membacanya hingga sampai ke jum'at berikutnya. 

Lalu apa hubungannya surat Al Kahfi dengan Dajjal sesuai judul diatas?
Hubungannya tentu saja ada dan sangat jelas, yang membaca surah Al Kahfi disinari cahaya sehingga dapat membedakan jalan kebaikan dan mana fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi, dia terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim) 

Selain itu Rasulullah juga berpesan dalam hadist lainnya:
“Barangsiapa di antara kalian yang mengetahui fitnah Dajjal, maka bacalah beberapa ayat pada awal surat al-Kahfi, karena sesungguhnya itu akan melindungi kalian dari fitnahnya (Dajjal).”(HR.  Muslim) 

Sungguh telah jelas apa yang disampaikan oleh Nabiyullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Rasulullah makhluk mulia sang kekasih Allah, dimana segala sesuatu yang disampaikan olehnya merupakan yang bersumber dari Allah. Begitu juga anjuran-anjurannya. Keputusan berada ditangan kita, apakah mempercayai dan ikut bergabung dalam barisan-barisan sunnahnya untuk melaksanakan ataukah sebaliknya menjadikannya hanya sebagai  berita usang yang habis dimakan zaman. 

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Kamis, 10 Oktober 2019

Bijak Menyikapi Perbedaan Pola Pengasuhan Anak Setiap Keluarga

Catatan Sebuah Momentum

Setiap keluarga memiliki cara tersendiri yang khas dalam menerapkan aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan setiap anggotanya. Begitu juga dalam hal mendidik anak, belum tentu cara yang diterapkan dalam sebuah keluarga cocok untuk keluarga yang lain.

Pernahkah bertemu dengan sosok yang merasa cara mendidik seseorang terhadap anaknya tidak sesuai ? kemudian dengan bangga berceloteh tanpa memikirkan perasaan orang yang dimaksud.

"Anak saya tidak pernah seperti itu karena dididik seperti ini".

Percaya atau tidak, banyak diinteraksi sehari-hari kita temukan peristiwa seperti diatas.

Satu hal yang harus kita tahu dan tanamkan dalam pikiran ketika melihat tingkah seorang anak adalah bahwa orangtuanya telah berusaha yang terbaik.

Jikalau kita merasa risih dengan tingkah yang tidak sesuai dari anak tersebut, pilih cara terbaik untuk bertukar pikiran dengan orangtuanya. Itupun jika kita memiliki kedekatan intens denganya namun jika tidak, bisa dengan memanfaatkan keluarga terdekat untuk menyampaikan.

Karena Nyinyir dan cemooh tidak akan menyelesaikan masalah, yakinlah.

Orangtua tentunya mengharapkan kebaikan untuk masa depan putra putri nya, dan cara terbaik mendidik anak adalah menerapkan apa yang diyakini baik serta benar oleh kita selaku orangtua. Dan tentunya tak boleh luput dari nilai-nilai agama.

Teringat kisah Nabi Allah, Nuh Alaihissalam yang putranya ingkar atas ajaran kebaikan darinya. Orangtua sejatinya berusaha yang terbaik namun Allah yang maha menggerakkan hati anak. Jadi setelah mendidik ada do'a yang seharusnya tidak pernah putus.

Intinya jangan memaksakan untuk mencontoh cara-cara lain dari luar untuk mendidik anak kita jika tidak sesuai dengan konsep keluarga kita, karena kitalah yang mengetahui bagaimana kondisi personal anak kita.

Satu hal yang penting juga, jangan pernah "Nyinyir" dengan cara mendidik keluarga lain terhadap anak mereka karena kita bukanlah orang yang mengetahui dengan pasti kondisi didalam sana.

Apresiasi hebat untuk para orang tua yang berjuang menerapkan pendidikan terbaik untuk buah hati dengan cara unik mereka terlepas dari nyinyiran dan cibiran pihak yang tak sependapat.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur
Tulisan lawas 21 Juni 2019

Selasa, 08 Oktober 2019

Bukan Joker: Tak Perlu Menjadi Orang Jahat Ketika Tersakiti

Catatan Sebuah Momentum

"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti". Menilik kembali cuplikan kata-kata sebuah film yang sedang jadi tranding topik pekan ini, yang banyak dijadikan qoute-quote penghias akun-akun di media sosial. Dan tak jarang banyak yang membenarkan kata-kata itu. Apa pesan moral yang didapat dari kata-kata itu ?

Menurutku,kalimat diatas menggambarkan bahwa sah-sah saja seseorang berlaku jahat, kejam, bahkan psikopat dengan tujuan untuk membalas jika ia disakiti. Padahal sebuah kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan juga.

Jika kita berpikir bahwa yang jahat harus selalu dibalas jahat, maka perbuatan jahat tidak akan pernah berkurang bahkan bertambah dimuka bumi ini. Karena setiap orang berpotensi tersakiti dan akan membalas dengan perbuatan yang sama atau lebih kejam, dan menghasilkan efek domino.

Psikologis dan terapis perilaku Karyn Hall mengatakan bahwa ketika seseorang membalas dendam atas perbuatan orang kepadanya akan mendatangkan rasa puas, namun itu hanya sementara karena perbuatannya itu akan membawa dampak pada kejiwaan yang bisa berakibat tindakan lanjutan yang lebih kejam.

Oleh karena itu jika ada yang merasa bahwa kata-kata film diatas adalah benar maka bisa dipastikan mentalnya tidak kuat untuk menerima setiap permasalahan hidup. Karena hidup rentan disakiti, bisa jadi secara sadar ataupun tidak sadar oleh pelaku namun tidak perlu menjadi jahat ketika tersakiti.

Baginda Rasul SAW telah memberikan contoh, meski dicemooh, dilempari hingga berdarah, diletakkan kotoran unta saat sujud.Namun tidak membuatnya membalas dengan hal yang sama atau lebih kejam. Beliau justru menunjukkan sikap baik kepada semua orang sehingga akhirnya banyak yang sadar bahwa yang dibawa olehnya adalah ajaran kebaikan.

Hal itu terjadi ketika orang-orang menyakiti pribadi Rasulullah, dalam sirahnya pun pernah dikisahkan seorang Yahudi buta yang tiap hari duduk ditepi pasar dan tak melakukan apapun kecuali meminta-minta dan mencaci maki Rasul. Tapi yang dilakukan oleh beliau adalah tak pernah alpa memberi makan orang itu tiap hari dengan tangannya. Hingga beliau wafat dan Sang Yahudi tersadarkan, kemudian bersyahadat dan menerima ajaran yang dibawa oleh beliau.

See? Buah dari kejahatan dibalas kebaikan itu lebih dahsyat kan ? Daripada harus membalas dengan kejahatan lagi.

Salam Kebaikan dari Timur Halmahera

Oleh: Mardha Umagapi

Senin, 07 Oktober 2019

Nasihatilah Saudaramu Pada Tempatnya, Jangan di Ruang Publik



Catatan Sebuah momentum

Era informasi memberikan ruang untuk bersosialisasi bukan hanya dengan bertemu langsung. Bersosialisasi saat ini bisa dilakukan secara maya diberbagai aplikasi media sosial.

Karena medsos adalah ruang publik, jadi bukan tidak mungkin, hal-hal yang biasa terjadi ketika bertemu langsung dapat juga terjadi di dunia maya ketika daring. Termasuk perkara nasehat menasehati.

Menilik kembali kebiasaan nasehat menasehati melalui komentar di postingan. Banyak ditemui ketika seseorang mengirimkan sebuah postingan di wall atau feed nya terutama terkait dengan hal yang personal. Tak jarang akan banyak komentar yang dilayangkan, ada yang sepakat dan ada yang tidak sepakat kemudian menyampaikan nasihat untuk memperbaiki atau mengubah cara pandang.

Sah-sah saja untuk berkomentar, namun yang seharusnya diingat bahwa untuk menasehati kita punya adab dan etika. Meskipun kata bijak mengatakan "Nasehat itu seperti obat, pahit namun menyembuhkan". Tetapi sebaiknya pahit itu hanya dirasakan oleh dia diruang khusus penuh rasa persaudaraan. 

Karena karakter orang dalam menerima nasehat itu berbeda-beda, ada yang lapang dada dan ada yang merasa berat. Maka sudah seharusnya menasehati di ruang publik bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

"Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu"
(Imam Syafi'i).

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Minggu, 06 Oktober 2019

Legenda Danau Tolire : Sebuah Improvisasi Cerita Rakyat Dari Ternate

Danau Tolire, foto: Boby Hamsyir
Galeri Malut

Cerita Rakyat Ternate: Legenda Danau Tolire , Tolire Gam Jaha (Lubang Kampung yang Tenggelam)


Firasat apakah ini ? Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, namun tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Seperti ada bisikan ditelingaku bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kampung ini. Beberapa waktu kemarin kudengar desas-desus warga kampung menceritakan tentang hubungan terlarang Paitua basar  (Pemimpin terpandang) dengan Ana Jujaro (Anak gadis) sendiri.

Sebenarnya berita yang kudengar itu membuatku tak percaya, dia adalah pemimpin terhormat dan terpandang serta menjadi panutan di kampung ini. Paitua tidak mungkin melakukan perbuatan tidak bermoral itu, namun semua prasangka baikku ternyata tidak terbukti. Memang seperti itulah kenyataanya, Mama-mama di sekitar rumah Paitua melihat Sang Ana Jujaronya sekarang telah mengandung.

Oh Tuhan, musibah apa yang akan Engkau turunkan di kampung ini, aku berharap keadaan akan baik-baik saja. Sebagian warga kampung ini adalah orang baik, mereka tidak bersalah untuk menerima musibah ini. Jika firasatku ini benar, kuharap ada yang bisa kulakukan untuk menghindarkan kampung ini dari Bahala.

“Koa? Yang ngana waje ge gougou Jago?” (Apa ? Benarkah yang kau bilang Jago?) Tanyaku kaget .

Jago, temanku yang sering bersama-sama denganku dikampung ini mengabarkan tentang akan diadakannya pesta Rongge (tarian perayaan) oleh warga kampung.

“Gougou hira. Doka ngana percaya ua, lebe laha ngana tagi toma Balai la ise masirete ma” (Benar temanku, Kalau kau tidak percaya, coba nanti jalan-jalan kesekitar Balai dan dengarkan sendiri)

Jawabnya sambil mengarahkan diriku agar ikut dengannya ke Balai tempat warga desa berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu.

Dan benar saja, ternyata disana ada persiapan pesta rongge untuk nanti malam. Aku langsung berbalik arah pulang, mengambil posisi duduk di tempat favoritku. Kupikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mencegah terjadinya musibah yang kemungkinan datang. Aku takut mereka terlena dengan pesta dan tak bisa mengantisipasi jika ada musibah.

Hari mulai gelap, aku sudah berada diperaduan. Namun netraku sulit untuk terpejam, aku menerka cemas tentang kemungkinan buruk dan perasaan tidak enak ini. Dari ujung kampung sayup-sayup terdengar suara irisan Viol* dan tabuhan Gong serta Tifa* pertanda pesta telah dimulai. (*Alat musik tradisional daerah)

Malam telah larut suara-suara tawa bercampur dengan suara musik, sepertinya kampung ini telah benar-benar larut dalam pesta. Kupaksakan untuk menutup rapat mata dan telinga agar bisa tertidur, namun ada suatu suara berbisik ditelingaku.

“Cepat ingatkan mereka ! Kampung ini akan tenggelam setelah kaummu bersuara pertanda waktu sepertiga malam”.

Kubuka mata mencoba mencari asal suara tadi, namun tak menemukan siapapun. Aku mengingat kembali kata-kata tadi apakah benar atau hanyalah mimpi, tidak mungkin mimpi karena aku belum tertidur saat dibisiki. Suasana gelap gulita disekelilingku, namun kupaksakan turun untuk mencari Jago temanku. Ingin aku sampaikan kejadian tadi padanya. Belum sempat kaki ini melangkah lebih jauh, seperti ada yang memaksa diriku untuk segera berteriak diiringi suara teman-temanku dari sekitar.

“Kukkuruyuuuukkkk…”

Tolire gam Jahaaaaa …. Tolire gam jahaaaaa …” (Lubang kampung tenggelam)

Tanpa sadar mulutku berteriak seperti ada yang menggerakkan, Mengingatkan bahwa sebentar lagi akan ada lubang dengan pancaran air yang menenggelam kan kampung ini. Semua teman disekitarku ikut bersuara.

“Kukkuruyuuuuukkkk…”

“Kukkuruyuuukkkk….”

Tanah berguncang kencang, segala pohon dan bangunan disekitar roboh. Orang-orang panik, berlarian tak tentu arah. Aku juga panik berusaha mencari tempat aman bersama teman-teman yang lain.

Tiba-tiba tanah dibawah pijakan orang-orang yang bingung dan berlari kesana kemari terbelah, air memancar keluar dengan deras. Sekilas ku lihat orang-orang ikut terperosok kedalam lubang yang mulai berair, tangan menggapai-gapai memohon pertolongan.

Sebagiannya kecil warga tidak ikut terperosok, mereka berlari ke arah pantai aku mengikuti mereka. Namun ternyata kejadian yang sama terjadi di pantai. Belahan tanah yang sedikit lebih kecil menenggelamkan kami yang berusaha menyelamatkan diri ke tepi pantai.

Perlahan-lahan tubuh ini masuk tersedot kedalam lubang berisi air itu, pandanganku terasa kabur, air membasahi tubuh terendam dan gelap. Kampung Solea Takomi tenggelam bersama 141 warganya.

Oleh: Mardha Umagapi

Hasil improvisasi cerita rakyat Danau Tolire, POV Ayam Jantan.
Ditulis di Subaim Halmahera Timur.

Danau Tolire Kecil, Foto: Boby Hamsyir

Kegiatan melempar batu di Tolire Besar, foto: Fany


Catatan: Danau Tolire adalah danau kawah yang memiliki luas 500 X 700 meter. Terletak di Kota Ternate Maluku Utara dengan jarak 4 Km dari pucak Gunung Api Gamalama. Salah Satu Hal Magis yang sering dijumpai para wisatawan adalah kemunculan Buaya Putih yang katanya jelmaan warga yang tenggelam. Hal menarik lainnya didanau ini adalah, lemparan batu yang tak pernah mencapai pertengahan danau. Batunya akan kembali ke sisi danau tempat melempar.
Sekarang sektor pariwisata di danau ini semakin digalakkan, Daripada penasaran, silahkan berkunjung.

Rabu, 02 Oktober 2019

Didiklah Anak dengan Nilai-Nilai Kebaikan, Suatu Saat Kebaikan Itu Akan Mengelilingi Hidupnya

Catatan Sebuah Momentum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 1 sampai 5 tahun adalah anak-anak dengan tingkat kemampuan meniru paling tinggi. Hampir semua perilaku lingkungan hidupnya menjadi bahan untuk ditiru.

Oleh karenanya, masa-masa ini menjadi peluang orangtua untuk meng-infiltrasi nilai-nilai kebaikan terhadap anak melalui contoh perilaku sehari-hari.

Mumpung masih kecil, keinginannya untuk diri sendiri belum banyak. Pilihan hidupnya masih bergantung kepada orangtua, maka bersegeralah menghadirkan kebiasaan-kebiasaan baik untuknya.

Karena jika pola pikirnya mulai berkembang,  pilihan untuk dirinya sendiri sudah mulai mendominasi pikiran dan tingkah laku, akan sulit untuk merubah. Seperti kata pepatah "Ala bisa karena biasa".

Intinya sebuah kebiasaan dimulai dari pembiasaan, dan pembiasaan yang baik melahirkan kebiasaan baik. Tidak ada kata terlambat untuk pembiasaan yang baik, trik kuncinya hanya kapan ia bisa menerima pembiasaan itu.

Buku seharga bakso, semoga hal kecil dan murah meriah ini bermanfaat menjadi kebiasaan baik dimasa depan.  Karena membiasakan kebaikan tak harus mahal.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Beware !
Postingan ini mengandung iklan 😄

Hati-Hati ! Masa Mudamu Akan Dihisab, Perhatikan Untuk Apa Kamu Menghabiskannya

Catatan Sebuah Momentum

Waktu adalah salah satu anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Diberikan kesempatan untuk memperbanyak bekal kebaikan selama di dunia. Salah satu nikmat waktu itu adalah saat masa muda, dimana fisik dan pikiran masih dalam kondisi bugar nan segar.

Kelak waktu yang dihabiskan diusia muda akan ditanya oleh Allah, dihabiskan untuk apakah waktu tersebut?

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)

Akankah habis untuk nongkrong sama teman melakukan hal sia-sia ataukah habis bersama pacar bicarakan yang topik yang belum halal. Mungkinkah habis untuk jalan-jalan bersama geng sosialita yang hanya untuk menghabiskan uang dan menghasilkan lelah.

Akan lebih beruntung jika waktu-waktu itu terisi dengan aktivitas kebaikan. Agenda penuh kebermanfaatan terhadap sesama.

Misalnya habis untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, kajian keislaman dan halaqah-halaqah ilmu Islam. Karena tempat seperti itu otomatis kita berkumpul bersama sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan untuk taat kepada Allah.

Atau habis untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuan, jauh lebih bermanfaat.

Manfaatkan waktu muda dengan baik sebelum diminta pertanggung jawaban oleh Nya. Berusahalah agar terhindar dari kerugian waktu di dunia.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr)

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Senin, 30 September 2019

Wamena, Bukan Masalah Suku, Ras atau Agama

Catatan Sebuah Momentum

Jangan generalisasi mereka.
Sebagian mereka juga menjadi korban ditanah sendiri. Jika pendatang boleh memilih untuk pulang ke kampung halaman sebagai alternatif mengungsi.

Mereka tidak punya pilihan itu, meninggalkan tanah kelahiran yang sedang rusuh.Hati tak sampai. Memilih untuk tinggal, berpeluang merenggang nyawa.

OAP Menungsi

Pelaku adalah oknum yang terprovokasi bukan keseluruhan mereka.
Kita sedang diadu domba.
Persatuan diujung tanduk.

Sempat menyaksikan cuplikan video wawancara seorang anak OAP usia SMA yang ikut dibakar karena berusaha melarikan diri saat sekolahnya diserang.

Sempat juga membaca kisah seorang dosen pendatang yang melarikan diri dari serangan perusuh dikampusnya, ia kemudian dibantu untuk sembunyi olah OAP disekitar kampus.

Warga pendatang yang dilindungi OAP

Hati terpukul, menyaksikan sebuah video viral di media sosial. Hampir semua bangunan termasuk rumah penduduk dibakar tanpa pandang bulu di sana. Sehingga yang tersisa hanyalah bangunan kantor aparat, TNI maupun Polisi.

Segudang kebaikan saudara kita tergerus habis dengan satu isu yang memecah belah.
Menghilangkan rasa kepercayaan dan rasa memiliki karena satu Indonesia.

Oleh: Mardha Umagapi

Ditulis di Subaim Halmahera Timur.
Semua gambar adalah dokumentasi viral dimedia sosial, kami kesulitan menemukan sumber asli.

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...