Dilihat

Kamis, 31 Oktober 2019

Peristiwa Akhir Zaman Menjadi Penguat Keimanan Mukmin: End Of Universe

Bagian 11

Kakek melafadzkan dzikir-dzikir dan diikuti oleh kami dengan suara bergetar menahan haru menyaksikan kebenaran berita yang disampaikan oleh Rasul Nya dan bercampur dengan rasa takut akan murka Nya terhadap orang-orang yang mendustakan peringatan.

Suasana diluar rumah mulai ramai,orang-orang memenuhi halaman rumah mereka dan jalanan dengan pandangan mengarah ke langit bagian barat. Ada yang heran, ada yang berteriak saling panggil dalam ketakutan dan ada yang melafadzkan dzikir dengan suara-suara bergetar.

Aku memeluk tubuh ibu dan ikut berdzikir bersamanya, hingga tak terasa butiran bening mengalir dari netraku membasahi pipi. Diri ini larut dalam dzikir dengan Isak tangis takut padaNya. Aku berusaha tegar namun pasrah dengan keadaan sembari membatinkan do'a dalam hati. Berharap kebaikan dan kemurahanNya atas kami hamba tak berdaya ini.

"Ya Allah tidak ada sehelai daunpun yang jatuh dari pohonnya tanpa izin darimu, apatah lagi kejadian sebesar ini. Kami pasrahkan hidup dan mati kami padamu, terimalah segala amal kebaikan kami dan kumpulkan kami sekeluarga di JannahMu."

Kami masih berdiri ditempat menyaksikan peristiwa besar ini, hingga matahari mulai meninggi dan terasa menyengat kulit. Kulirik arloji dipergelangan tangan, pukul sembilan lebih lima belas menit sekarang. Jika mengikuti waktu normal harian, sekarang sudah masuk waktu Dhuha.

Waktu berlalu begitu cepat karena kejadian ini, seharusnya rasa lapar mendera karena perut belum terisi sejak pagi. Sepertinya rasa terkejut dan fokus pada keadaan matahari pagi ini membuat rasa lapar kami hilang.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang ?" Tanya Ibu dengan rasa gugup yang masih tersisa.

"Kita banyak-banyak berdo'a dan bertawakal kepada Allah, semua ini terjadi karena kehendaknya." Jawab Kakek, yang kemudian mulutnya kembali komat-kamit larut dalam dzikir.

Terasa menyengat diluar sini, namun kami masih bertahan menunggu kelanjutan peristiwa hari ini. Setiap orang seakan enggak beranjak. Bahkan ada beberapa orang yang terlihat shock, sepertinya tak pernah menduga bahwa kejadian matahari terbit dari barat akan benar-benar terjadi.

Benarlah jika rukun iman yang terakhir mengharuskan kita untuk beriman kepada hari kiamat. Karena kejadian ini telah datang menjadi penguat keimanan bagi para mukmin dan menjadi momok menakutkan bagi yang tidak mempercayainya.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 10 klik disini

Rabu, 30 Oktober 2019

Mahasuci Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami Telah Mendzalimi Diri Kami: End Of Universe

Bagian 10

Dipembaringan malam ini netraku sulit terpejam, memikirkan keputusan apa yang hendak kuambil setelah membaca biodata yang diberikan Ibu. Ku ingat ibu dan ayah dahulu juga melewati proses pertukaran biodata sebelum menikah. Orang-orang dikalangan kami menyebutnya Ta'aruf. 

Lelaki yang biodatanya aku baca setelah maghrib tadi adalah orang yang masih asing bagiku. Melihatnya pun aku baru pertama kali melalui foto itu. Di lembaran kertas itu tertulis biodata lengkapnya termasuk pekerjaan dan jumlah keluarganya. 

Ada hal yang membuat kami memiliki kesamaan adalah, latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Kami sama-sama Sarjana Teknik dan bekerja dibidang yang sama, hanya saja kantornya berbeda. Kesamaan lainnya yaitu iya juga aktif melingkar di pengajian pekanan sama sepertiku. Jika saja tawaran itu disampaikan lebih awal sebelum kejadian alam yang mencekam seperti ini, mungkin aku akan memilih melanjutkan prosesnya.

Menurut yang disampaikan Ibu, berkas itu sebenarnya sudah dari minggu lalu diberikan oleh guru lingkar pekananku yang juga teman dekat Ibu. Namun waktu itu Kakek masuk Rumah Sakit sehingga Ibu lupa akan tawaran tersebut. 

Kulirik jam diatas nakas, pukul sepuluh lebih. Aku harus bersegera untuk tidur jika ingin bangun lebih awal. Suasana alam seperti ini menimbulkan rasa khawatir, dan sebaik-baik penenang adalah dengan mendekatkan diri pada Allah Rabb semesta alam. 

Aku terbangun saat alarm di gawai berbunyi, setingan alarmku pukul tiga dinihari. 

"Tin, ayo kita tahajjud. Panggilku seraya mengguncang tubuhnya. 

Ia menggeliatkan tubuhnya. 
"Aku belum bisa shalat Mut." jawabnya sambil menutup mata. 

Kulanjut membangunkan Ibu, dan segera melangkah membersihkan diri. Ternyata Kakek sudah lebih dulu bangun. Kami bertiga larut dalam tahajjud berjama'ah dan dilanjutkan dengan subuh beberapa jam kemudian. 

"... Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb mu, tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu... " (QS. Al An'aam: 158) 

Mushaf Al Qur'an dengan terjemahannya masih berada dalam tangan, saat kudengar suara berteriak memanggil dari arah dapur. 

"Kakek...! Bibi...! Mataharinya telah muncul. Teriak Tina dengan nada bergetar. 

Demi mendengar teriakannya aku yang sedang berada dikamar, langsung melompat lari keluar. Ibu mendorong Kakek dengan kursi rodanya kearah dapur.

Jendela dapur langsung mendapatkan sinar matahari pagi tanpa terhalang apapun, karena memang jendela itu mengarah ke arah barat. Yang selama ini menjadi tempat matahari terbenam tapi saat ini telah berganti posisi terbit. Matahari memenuhi Titah Tuhannya, mengubah posisi terbit dari arah timur ke barat. 

"Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin". Tiada Tuhan selain Engkau, mahasuci Engkau, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 9 klik disini

Selasa, 29 Oktober 2019

Kegelapan Akan Berakhir Setelah Malam Ketiga: End Of Universe

Bagian 9

Map plastik berwarna kuning itu kuserahkan ke Ibu, ada rasa penasaran ingin membukanya namun aku memilih untuk patuh kepada perintah Ibu. Senyuman penuh arti tersinggung dibibir Ibu kala menerima map dari tanganku. 

"Tina tolong liat gorengan ikan diatas kompor, ntar gosong" kudengar suara Ibu setelah mengambil map dariku dan berlalu menuju ruang tamu. 

Aku menyusul Tina ke dapur, barangkali ada aktivitasnya sore ini yang dapat kubantu. Ibu ada bersama kakek di ruang tamu sepertinya sedang membahas isi map yang kuberikan tadi. 

"Tin, Ibu sejak aku datang kesini kayaknya menyembunyikan sesuatu deh". Kataku ketika tiba didapur. 

"Perasaan kamu aja kali Mut". Balas Tina. 

"Gak, kayaknya ada hubungannya dengan map yang kubawa". Sambungku.

"Map apa sih? ". Tanyanya. 

"Kemarin sebelum kesini ada map dari rumah yang mama suruh bawa kesini". Jawabku. 

"kamu gak liat aja sekalian waktu bawa, biar gak penasaran". Lanjut Tina. 

"Gak diizinin sama mama." Kataku cemberut. 

"Ya udah berarti kamu belum harus tahu dong.. "Sanggah Tina. 

"Mut, kamu cuci piring kotor ya.. " Lanjutnya sambil tangan sibuk membolak balik tumisan sayur di wajan. 

" Hu'uummm..." Kubalas dengan wajah masih cemberut. 

Sekilas kulihat keluar, suasana gelap dan dingin masih menyelimuti sekitar. Kuingat kemarin Tina mengeluhkan tanaman mawar kesayangannya dibeberapa pot depan rumah sudah mati karena defisiensi cahaya matahari. 

Sedang asyik mencuci piring, kudengar suara Kakek memanggil.Aku melangkah keruang tamu. Disana ibu menyuruhku duduk disampingnya sambil menyerahkan selembar kertas yang ditempeli foto close up. 

"Apa ini maa? "Tanyaku 

Ibu hanya tersenyum. 

"Ada yang pengen mengenalmu lebih jauh, itu biodata sama fotonya" Kakek menjawab pertanyaanku untuk Ibu. 

Aku hanya diam, dan memandangi beberapa lembaran kertas yang terjepit rapi. Masih bingung dengan hal ini, mungkin Ibu menangkap kebingunganku dan berkata:

"Udah, kamu baca aja dulu, nanti kalo mau lanjut kasih tahu mama ya.. "

Aku mengangguk lalu berjalan ke kamar untuk menyimpan berkas tersebut. Tina yang melihatku bingung, meledekku dengan senyuman penuh arti. 

Sebenarnya aku sudah tahu tujuan dari pemberian biodata itu padaku, tentunya untuk menjodohkanku dengan orang di dalam biodata itu. Tapi aku bingung karena dalam kondisi alam saat ini justru aku khawatir dengan kelanjutan hubungan kami. Aku bahkan tidak lagi memikirkan menikah saat ini. 

Kadang, Cinta datang menyapa disaat semua tentangnya hilang dari pikiran. Dibenakku "apa hari esok masih sama dengan hari sebelum kegelapan panjang ini? "

Sementara malam nanti adalah malam ketiga sejak hilangnya matahari. Jika merujuk pada literatur Islam yang kubaca, kegelapan ini akan berakhir setelah malam ketiga. Mengkhawatirkan hal ini, aku bahkan sudah minta izin untuk tidak kekantor hari senin besok. 

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 8 klik disini

Senin, 28 Oktober 2019

Kebangkitan Pemuda Kunci Sukses Bangsa Ini

Catatan Sebuah Momentum

Disebuah bangunan yang bergaya Hindia Belanda, didaerah yang dikenal dengan nama Batavia berkumpullah para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara selama dua hari, dimulai dari tanggal 27 sampai dengan 28 Oktober 1928,mereka menyebutnya kongres pemuda.Namun ini bukanlah kongres yang pertama kali diadakan, karena para pemuda pernah berkumpul untuk hal yang sama pada dua tahun sebelumnya tepatnya 30 April - 2 Mei 1926. 

Terkumpul membentuk suatu pergerakan, terkumpul menyuarakan satu visi menegaskan cita-cita akan adanya tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. 
Hasil kongres ini lalu disebut Sumpah pemuda:

"Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia ". 

Tahun-tahun berlalu kini sejarah penting itu tiap tahun diperingati dan bahkan diadakan selebrasi, semoga bukan hanya ceremonial belaka atau sekedar ucapan selamat saja. Berharap ruh perjuangan yang waktu itu digaungkan para pendahulu tidak hanya tinggal sebagai catatan sejarah. 

Jika berkenan, ingin rasanya kejadian sejarah itu terulang kembali dalam pusaran waktu yang sama agar dapat diambil kembali semangat membara para pembuat sejarah itu. Biarkan generasi mencontoh, meresapi makna sumpah itu agar memberikan kekuatan jiwa dan raga untuk meneruskan perjuangan mereka para pendahulu.

Berharap tidak ada lagi pemuda apatis terhadap nasib bangsa, tidak ada lagi generasi yang sepanjang waktunya hanya dihabiskan berselancar dengan lempengan benda yang dinamakan gadget demi kesenangan mata. 

Berharap tidak ada lagi pemuda anarkis karena membela suatu kepentingan kelompok dengan pemikiran yang menggelapkan mata. 

Berharap tumbuh generasi muda yang berdedikasi tinggi untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dimata dunia, dan memiliki kesadaran bahwa kemajuan bumi pertiwi berada dipundaknya dimasa depan. 

Karena waktu terus berputar, sementara generasi tua memiliki batas waktu produktifnya maka pemuda berkarakter dibutuhkan disini dibangsa ini. 

Bukankah Bapak Proklamator kita Ir. Soekarno pernah berkata " Berikan aku 10 pemuda maka akan ku guncangkan dunia".

Siapapun yang merasa diri sebagai seorang pemuda dibangsa ini maka tanggung jawab itu jatuh kepadanya. Agar para pemuda dibangsa ini mau melihat bahwa moment sumpah pemuda bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang diingat  saat datang tanggalnya, tapi sebuah cambukan semangat untuk terus berkarya bagi bangsa. 

Oleh: Mardha Umagapi

Ditulis di Subaim Halmahera Timur
Tulisan lawas

Minggu, 27 Oktober 2019

Repotnya Sang Istri Jadi Jalan Rejeki Bapak Penjual Tissue

Cerita Pendek

Suasana jalanan masih lenggang pagi itu, ketika kami berboncengan diatas motor menuju pelabuhan. Tak banyak kemacetan maupun antrian mengular di loket pembelian tiket, namun banyak kendaraan lain yang telah mengantri siap menaiki Kapal Ferry.

Ya, pagi ini kami akan kembali pulang ketempat bertugas diujung pulau setelah dua hari kemarin berjibaku dengan sesuatu kegiatan dipusat kota kabupaten. Ada rasa kangen dengan kota tempat dibesarkan itu, namun tuntutan tugas sebagai abdi negara menunggu untuk dilaksanakan.

"Ayang, kamu sama dedek duluan naik ke kapal ya. Biar aku aja yang ngantri di motor". Kataku memberi tawaran kepada istri yang duduk di jok motor belakang bersama buah hati kami.

"Iiih, gak mau ah. Maunya sama-sama kamu aja Beb". Balasnya sambil manyun tanda tidak setuju yang terlihat dari spionku. Bayi sembilan bulan dalam gendongannya Bergerak-gerak tak sabar ingin segera keluar dari gendongan.

"Okelah, asalkan Ayang gak kelelahan nunggu dan dedek juga gak nangis pengen segera turun". Aku mengalah, jika dia bersikeras ikut mengantri denganku. Toh dia juga yang rasa kelelahannya.

Lima belas menit berlalu dan bayi dalam gendongannya sudah mulai tak nyaman. Rengekan-rengekan tanda bosan mulai terdengar. Dan istriku sibuk membujuk agar anak kami tenang. Kulihat ia juga mulai merasa gerah lama diatas motor dengan gendongan depan dan tas sampingnya. Aku memilih diam saja, kupikir jika menawarkan akan sama jawabannya.

"Beb, kayaknya aku duluan aja yah naik ke kapal. Biar bisa baring-baring diranjang kapal dengan si dedek." Akhirnya ia menyerah.

Ia turun dari boncengan motor dan melangkah menjauh menuju pintu masuk kapal. Gamis dan jilbab lebarnya melambai-lambai ditiup angin, menambah pesonanya di netraku. Wanitaku dengan segala kerempongannya dan keribetan perasaannya, ia tetap menjadi juara dihatiku.

***

Setelah melewati antrian yang lumayan memakan waktu lebih setengah jam, aku akhirnya berhasil naik ke Kapal Ferry. Kulangkahkan kaki dengan tentengan tas dikedua tangan berjalan mencari letak kedua orang yang tersayang. Tak butuh waktu lama, kutemukan mereka diatas ranjang Ferry sedang rebahan diantara penumpang lainnya. Si dedek tengah asyik bermain dengan ratlenya dan tak rewel lagi, sementara Sang Ibu berbaring disisi sambil mengawasi.

"Gimana Yang, capek ?" Tanyaku.

"Hu'uh." Jawabnya singkat.

"Pak, Bu, tissue ?" Seorang bapak usia lanjut menawarkan dagangan ditangannya yang berisi tissue dan barang-barang lainnya.

Kulirik Istri, berharap ia mau membeli satu. Karena jujur aku kasihan pada bapak itu. Tatapanku dijawab dengan gelengannya.

"Belikan satu aja Yang". Pintaku

"Kita masih punya tissue Beb, tuh di tas masih banyak isinya juga." Tolaknya tanpa melihatku karena sedang memperbaiki posisi si dedek yang sedang berusaha duduk.

Akhirnya aku menoleh ke arah pak tua dan menyampaikan maksud penolakan dengan suara selembut mungkin.

"Maaf Pak, belum." Jawabku. Sang bapak melangkah gontai dengan wajah lesu, mungkin harapan untuk mendapatkan uang dari kami pupus.

"Kasihan juga, Si Bapak diusia tua itu masih harus berjualan diatas Ferry yang menyebrang kesana kemari. Apa ia tidak kecapean? Coba kalo tadi kita beli satu aja, pasti dia akan senang". Imbuhku.

"Iya Yang maunya sih gitu, tapikan kita masih punya tissue banyak didalam. Kemarin kan Beb baru aja belinya kan?". Sanggah istriku tak mau kalah.

Tak ingin membuatnya kesal, aku diam saja. Ku ambil sebotol air mineral ditas dan membuka segel serta tutup botolnya untuk minum. Belum sempat bibirku menyentuh botol, tangannya telah menarik botol ke mulutnya dan meminum. Dan sukses membuat bajuku basah terkena air yang tumpah dari botol.

"Ya Allah, koq gitu sih ? Aku kan haus Yang". Aku sedikit kesal.

"Maaf Beb, tapi aku juga haus dari tadi belum sempat minum apalagi habis ngASIhi dedek." Balasnya memelas Sambil menyodorkan tissue.

"Wanita ... wanita ... Ada-ada saja tingkahnya. Coba saja kalau tadi dia bilang sebelum aku minum, kan gak begini jadinya." Batinku sambil mengelap tumpahan air di baju dengan tissue.

Belum puas diteguknya air dari botol, bayi kami menangis minta gendong. Ia meletakkan botol, meraih bayi lucu itu dan menenangkannya dalam pelukan. Kemudian tangannya menggapai botol dan hendak melanjutkan minum.

Namun nasib malang tak dapat ditolak, botol tak berpenutup itu oleng terkena sentuhan kaki Si Dedek. Segera kutangkap namun terlambat, botol roboh ke ranjang dan menumpahkan isinya. Air bergerak meluncur kesemua sisi ranjang, untungnya lapisan atas ranjang ditutupi dengan karpet kedap air sehingga air tak merembes.

Tissue yang kami punya pun habis dipakai untuk mengelap basahan air di atas ranjang. Aku langsung teringat bapak tua penjual tissue tadi.

"Yang, kasih duit lima belas ribu dong." Pintaku.

"Untuk apa?"

"Buat beli tissue. Itu sudah habis, nanti gak ada malah ribet."

Disodorkan uang seharga tissue, akupun bergerak mencari bapak penjual. Berharap bisa menemukannya. Kubayangkan sumringah wajahnya melayani pembelian dariku.

Dalam hati aku membenarkan kata-kata bahwa rejeki sudah diatur dan tidak akan tertukar. Tinggal kita yang mau berusaha menjemputnya, seperti yang dilakukan bapak itu. Allah sudah mengatur tissue kami yang masih banyak itu, habis dalam seketika agar rejeki datang melalui kami menghampiri sang bapak penjual tissue.

Oleh:Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Semua Iman dan Amalan Yang Dilakukan Setelah Matahari Terbit Dari Barat Tidak Akan Diterima

Bagian 8

Memikirkan obrolan keluargaku di halaman belakang tadi, aku lebih banyak diam menunggu ada yang membuka suara lebih dahulu untuk membahasnya entah itu Kakek atau Ibuku.  Sebenarnya hati ini diliputi rasa penasaran, namun demi menghindari rasa malu dan gugup kupilih menenangkan diri dengan Tilawah setelah Ashar.

Kakek sedang berada di ruang televisi menonton berita sambil dipotongi kukunya oleh Tina yang sesekali melirik kearah televisi. Aku duduk di kursi disamping rak buku di ruang yang sama.

Untuk urusan buku kakek tidak tanggung-tanggung karena suka membaca, kakek mengoleksi buku bacaan yang semuanya dikumpulkan di rak buku di ruang televisi sekaligus ruang keluarga ini. Ada tiga rak penuh berisi buku yang posisinya mengambil tempat sebagian ruangan ini.

Sebenarnya sudah beberapa orang yang berkunjung ke rumah Kakek menyarankan untuk membuat ruang khusus untuk buku-buku ini. Namun belum terlaksana mungkin terkendala luas tanah.

Ada sebuah buku di salah satu rak bagian atas yang menarik perhatianku, kulirik sekilas nama penulis yang tertulis disisi buku bersamaan dengan judulnya "Dzikir Akhir Zaman : Abu Fathiah Al Adnani" langsung Kutarik dari rak dan segera membacanya.

Buku tebal ini berisi berbagai macam informasi terkait akhir zaman, termasuk kondisi gelap sebelum matahari terbit dari barat. Dimana disebutkan dalam buku ini bahwa

" Akan datang suatu masa dimana bumi akan menjadi gelap selama seperti tiga malam hitungan normal, lalu setelah itu matahari akan terbit dari barat. Dan ketika masa itu tiba tidak akan lagi terbuka pintu taubat. Semua iman dan amalan yang dilakukan setelah matahari terbit dari barat tidak akan diterima selama-lamanya. "

Keterkaitan buku ini yang begitu jelas dengan kondisi bumi sekarang, membuat ku terlarut menjelajahi kata demi kata dan kalimat demi kalimat di dalamnya. Hingga tanpa sadar, sebuah tepukan mendarat di bahuku yang sukses membuat aku terkaget.

"Mut, ngapain sih? Mama panggil dari tadi gak dengar." Tanya Ibu dengan nada sedikit kesal.

Aku merasa bersalah tak mendengar panggilan Ibu.

"Maaf Maa, ini lagi serius baca buku". Jawabku dengan memasang tampang memohon maaf.

"Pesanan mama saban hari kamu letakkan dimana?" Tanyanya lagi.

"Oh itu, nanti Mut ambilkan". Jawabku dan langsung beranjak mengambilkannya untuk Ibu.

"Jangan dibuka, langsung dibawa kesini". Sayup-sayup kudengar suaranya dari belakang.

"Map itu isinya berkas apa sih..? Mama kayaknya menyembunyikan isi map dari ku". Aku bertanya dalam hati.

Beberapa hari lalu saat hendak kesini Ibu memang berpesan agar aku mengambil map di laci kamarnya untuk dibawa serta, akupun tak sempat melihat isinya.

"Ah sudahlah, apapun isinya, nanti juga mama bakalan bilang kalo aku merajuk gak dikasih tahu". Senyumku mengembang mengingat betapa sering aku merajuk pada Ibu, Sang Orangtuaku satu-satunya.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 7 klik disini

Jumat, 25 Oktober 2019

Tanpa Matahari Kehidupan Hancur Tapi Tanpa Iman Akan Lebih Hancur Lagi: End Of Universe

Bagian 7

"Halo! "Seru ku setelah menggeser layar gawai.

"Halo, assalamualaikum." Jawab suara diseberang sana.

"Mut ini aku, Laila."Lanjutnya lagi.

"Oh Laila, kamu pakai nomor siapa?" Tanyaku.

"Nomor Ibuku, handphoneku mati sejak kemarin. Aku tidak menemukan sumber listrik untuk men-charge-nya." Akunya.

Di kampung Laila, memang belum tersentuh listrik, semua aktivitas yang membutuhkan listrik harus menggunakan mesin diesel sebagai sumbernya. Dengan kondisi Matahari yang belum muncul hingga kini aku tak bisa membayangkan seperti apa gelapnya kampung  Laila di siang begini.

Kutanyakan kabar dan apa yang ia butuhkan untuk dibantu olehku.

"Mut, tolong izinin aku lagi dong di kantor. Ibuku sakit, ini sementara lagi dirawat di PKM rencananya nanti mau rujuk ke kecamatan. " pintanya.

"Sakit apa La?. Bukannya cuti mu masih beberapa hari lagi?" aku menyanggah.

"Ini Mut, asma ibuku kambuh gak tahan dingin soalnya, cuaca beberapa hari ini yang semakin dingin pemicunya. "

"Masih ada beberapa hari di waktu cutiku namun untuk berjaga-jaga kalo perawatan ibuku membutuhkan waktu lebih, setidaknya aku sudah dapat izin lagi". Tambahnya.

"okelah gini aja, nanti kalau waktu cutimu habis dan kamu belum masuk, nanti aku bantu izinin deh. Gimana La? " Saranku.

" Baiklah kalo gitu, yang terbaik aja menurutmu." Laila menurut.

"Ya, sudah kamu tenang disana. Gak usah pikirin urusan disini, fokus jaga ibu aja baik-baik. " sambungku.

" Oke assalamualaikum!" Tutup Laila.

"Waalaikumussalam". Jawab ku dibarengi dengan suara "klik" tanda sambungan terputus.

Kulirik jam weker di atas nakas, limabelas menit lagi masuk waktu ashar. Rupanya aku tertidur lumayan lama setelah dhuhur. Telepon dari Laila tadi membangunkanku.

Kusibak Selimut tebal yang menutupi diri lalu tangan meraih jilbab hijau lebar berbahan kaos di ujung tempat tidur, mengenakannya kemudian melangkah keluar kamar.

Netra menyapu seluruh ruangan, namun tak kutemukan sosok Ibu, Kakek dan Tina.
"Dimanakah mereka berada, seharusnya mereka tidak kemana-mana. Bukankah ini sudah hampir waktu ashar?" Aku membatin.

Kaki melangkah menjelajahi semua ruangan di rumah, kulihat kamar kakek tampak gelap karena lampu tak dinyalakan. Kuputuskan untuk berjalan kehalaman belakang, karena terlihat seperti bayang nyala api dari posisiku didalam rumah.

Benar saja, kaki terhenti saat tiba disana. Keluarga yang terdiri dari tiga generasi itu sedang berkumpul disana mengelilingi tumpukan kayu yang terbakar dan menyala.

"Mut, ayo sini gabung". Kata Kakek mengajakku.

Ibu dan Tina melirikku dengan senyum lalu Tina menyodorkan bangku plastik kecil untuk ku duduki.

"Udara semakin dingin, api unggun kecil ini membantu menghangatkan tubuh". Kata Kakek.

"Kalo Mau, buat sendiri tehnya didalam". Ibu menambahkan sambil menikmati cangkirnya.

"Nanti aja, Sudah mau Ashar". Kataku

"Tadi Mut liat, kayaknya pada serius ngomongin sesuatu. Apa sih? "Tanyaku.

" Ini lagi ngomongin lamaran buat kamu" Tina menimpali sambil mengedipkan sebelah mata.

"Masa sih? ".

Jantungku langsung berdetak kencang, kurasakan pipiku mungkin saja memerah dan terlihat oleh para keluargaku ini. Aku malu.

Melihat hal itu, Ibu dan Kakek langsung tertawa  karena aku salah tingkah. Ibu mendorong Kakek dengan kursi rodanya melangkah masuk. Tina berdiri sambil membawa nampan berisi cangkir kosong, sambil berlalu didepan.

"Ayo masuk sudah waktu Ashar, jangan bengong aja.. Ntar jodohnya lewat". Katanya meledekku dengan tawa kecil.

Berbicara tentang lamaran, kuingat empat tahun lalu saat menyelesaikan pendidikan Strata Satu nya, Tina langsung dilamar oleh teman seorganisasinya di kampus dan langsung dinikahkan oleh Kakek dan orang tuanya.

Tentu saja itu menjadi hal yang membahagiakan untuk Tina, namun Tiga tahun lalu tepat diusia pernikahannya yang ke satu tahun suaminya meninggal karena kecelakaan tunggal saat pulang kerja. Hingga saat ini Tina masih belum membuka pintu hatinya untuk siapapun. Sedangkan aku, tidak ada rekam jejak kedekatan dengan lelaki manapun selama baligh hingga kini.

"Lamaran untukku, apa iya? Dikondisi alam yang tidak memungkinkan ini? "Tanyaku dalam hati.

Gelap memang masih menyelimuti bumi, segelap gambaran jodoh masa depanku.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur
Baca bagian 6 klik disini

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...