Dilihat

Rabu, 23 Oktober 2019

Allah Anugerahkan Keluarga Sebagai Tempat Pulang Ternyaman: End Of Universe

Bagian 4

Sebuah keberuntungan bagiku karena berada ditengah-tengah keluarga disaat seperti ini. Bagaimana tidak, percakapan antara kami siang tadi tentang kondisi alam dalam gelap panjang saat ini menyisakan rasa cemas akan kesiapan menyongsong hari esok. 

Malam ini, setelah makan malam dan shalat Isya berjama'ah dengan di imami oleh kakek, masing-masing kami bersiap untuk menuju peraduan. Tak lupa kakek berpesan agar di sepertiga malam nanti kami saling membangunkan untuk tahajjud. Saat ini hanya jarum jamlah yang menjadi patokan, siang dan malam tiada bedanya mengingat matahari masih berada dalam tafakkur panjangnya dibawah Arsy. 

Kakek ku memang adalah lelaki diusia yang sudah lanjut, namun semangat ibadahnya tak pernah kendor. Bahkan sebelum sakit tua menggerogotinya ia adalah Imam di surau lingkungan tempat tinggalnya saat ini. Jika berbicara tentang ilmu agama, ia sedikit banyak memilikinya karena dulu diusia muda sempat merantau menjadi santri di negerinya para santri. 

"Tidur jangan larut, malam ini kita bangun shalat minta petunjuk dan kekuatan kepada Allah untuk menghadapi kondisi alam saat ini agar selalu dalam penjagaan-Nya." Begitu kata Kakek sebelum tidur tadi. 

Diperaduanku, netra ini menjadi sulit terpejam. Kulihat Ibu dan Tina disampingku sudah terlelap memeluk guling masing-masing, dan mungkin sudah dibuai mimpi. Sedangkan aku, pikiranku melayang kemana-mana. 

Teringat masa-masa saat ayah masih bersama kami, disaat yang mengkhawatirkan seperti ini tentu adanya ayah dan juga kakek akan menjadi tambahan kekuatan bagi kami untuk tegar dalam kondisi apapun. Namun sudah menjadi ketentuan-Nya, ayah dipanggil menghadap dua tahun lalu saat aku baru saja menyelesaikan pendidikan Strata satuku. 

Pikiranku berkelana ke kondisi pagi tadi yang aku lihat. Di sepanjang taman yang ada di sekitar jalan, tumbuh-tumbuhan tidak lagi terlihat hijau. Daun-Daun terlihat menguning seperti layu. Bahkan ada sebagian pohon yang sudah berguguran daunnya pertanda kekurangan cahaya matahari.

Suhu udara malam ini pun dinginnya sudah sangat dingin, dibanding jam sepuluh pagi tadi, saat mengendarai motor dijalanan. Untuk tidur kami sampai menggunakan dua lapis selimut. 

Hilangnya cahaya matahari memang telah menurunkan suhu dipermukaan bumi. Para saintis memperkirakan, jika seminggu matahari masih belum muncul juga maka suhu permukaan bumi secara keseluruhan akan menjadi dibawah duabelas derajat celcius. 

Orang-orang didaerah yang biasa mendapatkan musim, mungkin menjadi hal yang biasa. Namun bagaimana dengan kita di Indonesia? 

"Ah, sudahlah aku harus segera tidur. " Pikirku. 

Semakin banyak memikirkan tentang kejadian beberapa hari ini, semakin sulit bagiku untuk memejamkan mata. 

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 3 klik disini

Senin, 21 Oktober 2019

Akhir Zaman Segala Macam Maksiat Berlomba Menunjukkan Eksistensi: End Of Universe

Bagian 3

Jika berpatokan pada putaran jarum jam, sudah dua hari lamanya sejak matahari tidak lagi menampakkan diri di langit. Seiring dengan hilangnya matahari, suhu dipermukaan bumi terasa semakin dingin dari waktu ke waktu.

Meskipun gencar, media memberitakan kejadian ini dari versi telaah saintis, namun sebagian orang mulai menyadari bahwa latar belakang hilangnya matahari dari peredaran adalah awal dari akan munculnya salah satu tanda besar kiamat yang tak dapat di pungkiri.

Hari ini adalah hari Sabtu, kuputuskan menengok ibu ke rumah kakek karena kantor tempatku bekerja hanya beraktivitas lima hari dalam sepekan yaitu senin hingga jum'at maka sabtu dan minggu adalah waktu libur kerja untuk kami. Sedari subuh semua persiapan telah kulakukan, sepeda motor ku pacu menuju jalanan yang mulai ramai.

Satu hal yang membuatku miris, meski suasana alam yang menurutku dan sebagian orang termasuk hal mengkhawatirkan karena sudah jelas akan dekatnya hari akhir, tapi ada saja orang-orang yang tak peduli dengan kondisi ini bahkan menganggap semacam fenomena alam biasa yang akan segera berlalu tanpa masalah.

Semalam, saat pulang dari membeli makan malam diwarung dekat rumah karena tidak sempat masak, tampak olehku dua orang muda mudi yang duduk berdampingan di taman samping warung. Kutebak mereka sedang pacaran, karena jelas terlihat lengan pemuda melingkar manis dibahu sang pemudi yang saat itu masih mengenakan rok SMA meski atasannya ditutupi jaket.

"Sudah malam begini, apa tidak dicariin sama orang tua? Ataukah saat ini malam dan siang sama saja bagi mereka sehingga tidak ada masalah? " Pikirku.

Ada rasa heran didalam hati, apakah kejadian ini tidak cukup membuat mereka takut untuk bermaksiat? Tanda yang muncul saat ini merupakan peringatan bagi orang yang berpikir dan mau menaruh perhatian tentang kondisi akhir zaman.

Sepeda motorku melaju sudah setengah perjalanan, aku sengaja mengendarai tidak terlalu laju agar bisa memperhatikan kondisi sekitar. Tiba-tiba gawaiku berdering tanda panggilan masuk, aku hentikan laju sepeda motor dan menepi untuk menjawab panggilan telepon. Dilayar tertera nama "My Mom" segera kuterima.

"Assalamualaikum Ma,? "

" Waalaikumussalam, Mut kamu sudah sampai mana? Perjalanannya kok lama sekali. Bukannya kamu berangkat sejak awal pagi?" Pertanyaan beruntun langsung dilemparkan padaku.

"Ini masih dijalan Ma.. Sudah dekat, tadi Mut jalannya agak pelan soalnya dingin sekali". Jawab ku.

"Ya sudah, hati-hati, kamu bawa pesanan mama kan? " Tanyanya lagi.

"Iya ma, ini sudah ada didalam tas."

" Oke kalo begitu, Assalamualaikum". Mama mengakhiri.

"Waalaikumussalam". Jawabku.

Aku melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh lagi. Ku lirik arloji dipergelangan tangan kiriku, sudah pukul sepuluh lebih lima belas menit. Waktu sudah merangkak siang sebenarnya, namun karena kondisi yang serba gelap semua lampu dirumah-rumah maupun dijalan tetap dinyalakan sebagaimana malam.

Tiba dirumah kakek, aku disambut sepupuku Tina didepan pintu. Kami salaman dan berpelukan gembira karena jarang ketemu. Ibu muncul dari belakang segera kusalami dan mengecup punggung tangannya,

"Kakek mana? "Tanyaku

" Lagi dihalaman belakang" Jawab ibu.

"Ayo kebelakang, Kakek tadi menanyakan apa kamu sudah sampai". Ajak Tina.

Tina adalah anak pamanku, Ia lebih tua dua tahun dariku, namun  kami akrab seperti sebaya bahkan tak ada panggilan spesial "Kak" maupun "Dek" diantara kami. Ia tinggal bersama kakek sejak melanjutkan sekolah SMA dikota ini.

Kutemui kakek dihalaman belakang, duduk bercengkrama bersamanya serta Ibu dan Tina. Dalam percakapannya kakek bercerita tentang pengetahuannya terkait kejadian saat ini.

"Belum munculnya matahari saat ini sebenarnya sudah dijelaskan dalam Hadist Rasulullah". Kata Kakek.

"Gimana hadistnya Kek? "Tanyaku.
Sebenarnya hadist tentang peristiwa ini sudah sering kudengar dalam kajian-kajian tentang akhir zaman yang ku hadiri, namun aku mau mendengarnya dari kakek.

" Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat, jika ia telah terbit lalu manusia menyaksikan, maka semua orang akan beriman, ketika itu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya".

"Begitu bunyi hadistnya yang kakek ingat, kalo kakek tidak salah hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. " Kata Kakek.

Aku, Ibu dan Tina saling pandang dan ada rasa khawatir yang terpancar dari wajah kami. Apakah keimanan dan amalan-amalan kami selama ini cukup untuk menyongsong peristiwa besar ini?

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca bagian 2 klik disini

Sabtu, 19 Oktober 2019

Semua Benda Langit Tunduk Atas Titah-Nya: End Of Universe

Kisah Berhikmah

Bagian 2

Siang ini di kantor suasana masih tetap sama dengan awal pagi menginjakkan kaki disini, gelap bak malam hari. Semua orang terlihat larut dengan kerja masing-masing namun sebenarnya rasa khawatir terselip di benak setiap mereka.

Berita di televisi kantin siang ini memberitakan kejadian yang tak biasa tentang matahari yang belum juga muncul hingga siang ini. Kami para karyawan yang sedang menikmati makan siang pun tak pernah lepas memandang benda segi empat berukuran 21 Inci tersebut.

Begitu juga diriku dan Laila, kami memilih tempat duduk di pojokan kantin dan mulai menikmati makan siang tanpa suara dengan netra terpana kearah televisi.

Sang pembaca berita menyiarkan informasi tentang keterkaitan kejadian hari ini dengan adanya aktivitas pergeseran kutub bumi. Ibu penjaga kantin berdiri dengan remot di tangan. Jika ada jeda salah satu stasiun, ia akan pindahkan tayangan ke stasiun yang lain.

Di salah satu stasiun televisi swasta, disiarkan ceramah seorang Ustadz kondang yang menjelaskan terkait tanda Kiamat. Yaitu saat matahari dipanggil oleh Allah untuk menghadap kebawah Arsy yang lamanya seperti tiga malam. Aku dan Laila saling menatap, ada semacam rasa khawatir yang terpancar di netranya.

"Penjelasan Ustadz itu seperti materi yang pernah kita dapatkan di lingkaran kita sebelumnya, Mut". Katanya padaku.

"Ya aku rasa memang seperti itulah penjelasan yang cocok untuk kejadian yang terjadi hari". Balasku.

Aku menambahkan: "Meskipun kejadiannya secara ilmu sains adalah demikian, namun semua sudah ada penjelasannya dalam Islam. Intinya kita jadikan kejadian hari ini dengan semakin meningkatkan ketakwaan pada Allah".

Laila terdiam dan mata mulai berkaca-kaca.
"Kamu kenapa La?" Tanyaku kaget.

"Gak apa-apa, aku hanya teringat ibu dan adikku di kampung. Bagaimana keadaan mereka saat ini, apalagi ketika melihat peristiwa ini. " Katanya sambil menyeka air yang hampir merembes keluar dari mata.

Laila pernah bercerita bahwa dikampungnya jaringan seluler belum bisa dijangkau, sehingga untuk saling bersabar, orang-orang disana harus melakukan perjalanan ke daerah gunung untuk mendapatkan jaringan. Selama diterima bekerja dikota ini ia tidak bisa menelpon ibu, kecuali ditelepon  oleh orang di kampung yang menyampaikan salam dari keluarganya.

Demi melihat kesedihannya, ku sarankan agar ia mengambil cuti untuk pulang kampung melihat kondisi ibunya.
"Gimana kalo kamu ngambil cuti dulu barang seminggu, biar bisa menengok mereka dikampung".

"Makasih masukannya Mut, kalo kamu gak bilang mungkin aku gak kepikiran buat cuti. Lagian sudah lama aku belum cuti lagi". Katanya dengan mata berbinar senang.

Setelah menghadap atasan hari itu, akhirnya Laila diizinkan cuti untuk menengok ibu dan adiknya di kampung.
Sedangkan aku yang sebenarnya ingin cuti juga agar bisa menyusul ibu ke rumah kakek, tidak diizinkan atasan.

"Mutmainnah, kamu belum di izinkan cuti. Tolong bantu handle kerjaan Laila sampai dia kembali."

Aku hanya bisa mengangguk tanda setuju, yang ada dipikiranku, semoga kakek cepat pulih biar ibuku segera kembali.

Baca bagian 1 klik disini

Oleh: Mardha Umagapi
Tulisan lawas
Subaim Halmahera Timur, 27 April 2019

Jumat, 18 Oktober 2019

Ketika Matahari Menghadap Rabbnya: End Of Universe

Kisah Berhikmah

Bagian 1

Hari itu suasana masih tampak seperti malam hari, aku bangun dari tempat tidur berharap masih ada waktu untuk melaksanakan Qiyamul Lail. Ku tengok jam di gawai, ternyata waktu subuh telah dimulai lima menit yang lalu.

Aku bergegas turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, sholat subuh kutunaikan. Lepas sholat aku menuju dapur, membersihkan apa-apa yang perlu dibersihkan dan memasak untuk sarapan.

Setelah meletakkan makanan untuk sarapan dimeja, ku lirik jam di dinding sebenarnya sudah pukul 06.30 WIT. Seharusnya matahari sudah memancarkan sinarnya. Namun diluar suasana masih terlihat gelap seperti saat bangun tadi.
"Ah, mungkin hari ini hujan akan turun dengan lebat". Pikirku.

Kusiapkan peralatan yang akan dibawa ke kantor, tak lupa menyelipkan jas hujan di bagasi motor. Setelah sarapan dan berganti pakaian aku keluar rumah untuk melihat-lihat kondisi diluar.

"Sepertinya ada yang tidak beres, cahaya matahari tidak keluar meskipun sedikit. Ini sudah pukul tujuh lebih, seharusnya ada secercah cahaya meski langit mendung dan akan ada hujan lebat sekalipun." Gumamku.

Tidak ingin terlambat kekantor, aku bergegas masuk kembali kedalam rumah dan mengambil tas yang telah Kusiapkan. Ku kunci pintu rumah dan melafalkan :
 " Bismillahi tawakkaltu alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah".
Do'a yang selalu kulafalkan saat hendak keluar rumah untuk bepergian, mengharap adanya penjagaan dan  perlindungan Allah dalam setiap langkah.

Tak lupa kukirim pesan kepada ibu, berpamitan untuk pergi kerja. Karena saat ini ibu sedang tidak di rumah, ia sudah seminggu ini menginap dirumah kakek di kampung sebelah.

Kami mendapat kabar kakek sakit minggu lalu, karena ibu adalah puteri satu-satunya maka ia yang memang selalu dipanggil jika kakek harus dirawat. Sedangkan paman ku dua orang tinggal didaerah yang berbeda.

Kurapatkan Jaket dan memasang erat helm yang menutupi kepala berjilbabku, sepeda motor pun dihidupkan dan melaju membelah jalan yang mulai ramai. Sepanjang jalan tak henti-hentinya mata ini memandangi kiri dan kanan jalan melihat kalau-kalau ada petunjuk tentang keanehan pagi ini, namun sia-sia tak ada petunjuk yang Kudapat dan hanya menyisakan tanda tanya.

Setibanya dikantor, banyak yang telah datang namun setiap dari mereka memasang tampang keheranan. Ku terka itu pasti karena suasana alam pagi ini yang tidak biasa.

"Mut, gimana tanggapanmu terkait kondisi pagi ini?" Laila bertanya sembari menghampiri meja kerjaku.

"Aku merasa ada yang aneh, sampai saat ini matahari juga belum muncul. Padahal hujan yang aku kira akan turun, gak turun-turun juga." Kataku.

Laila adalah sahabat dekat sekaligus rekan kerjaku. Dalam berpikir dan bertingkah laku kami berdua memang mirip. Sehingga tak heran sejak bertemu diawali kerja, kami pun bersahabat dekat hingga saat ini. Bahkan di pengajian rutinku tiap minggu, aku juga mengajaknya untuk ikut serta.

"Apa ini ada Hubungannya dengan kejadian-kejadian yang terjadi belasan tahun lalu ya..?" Sambung Laila.

"Mungkin saja La, bukankah pembahasannya juga sudah sering dibahas di lingkaran pengajian kita terkait kejadian di akhir zaman, dan kondisi yang pernah kita bahas itu seperti saat ini. " Jawabku.

Aku dan Laila melihat keluar jendela, ada rasa penasaran ingin melanjutkan bertukar cerita tentang pagi ini. Namun tumpukan pekerjaan telah menanti di meja masing-masing.


Oleh: Mardha Umagapi
Tulisan lawas
Subaim Halmahera Timur, 26 April 2019

Kamis, 17 Oktober 2019

Kelamnya Masa Lalu Dan Pahitnya Kehilangan Akan Allah Ganti Jadi Indah Jika bersabar

Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 10


"Kak Mai, hari ini Mita mau ke makam Kak John". Wanita berparas Cantik itu bersiap-siap.

"Mita mau diantar Rahim trada?". (Mita mau diantar Rahim nggak?) Maimunah membalas ucapan adik iparnya.

"Boleh, emang Rahim gak ada kesibukan hari ini ?" Mita bertanya sembari melirik ponakannya. Yang dilirik balas tersenyum dan mengangguk.

Setelah melepas kepergian adik ipar dan anaknya Rahim didepan pintu, Maimunah berbalik arah melajukan kursi roda kearah kamar. Dilihatnya bungkusan kado yang belum sempat ia sentuh sejak diberikan kemarin, hadiah yang tak pernah luput dari adik iparnya itu, sejak kematian suaminya.

Ya, suaminya John meninggal bertepatan dengan hari lahirnya. Sehingga setiap hari lahir Maimunah, Mita selalu menyempatkan diri datang memberikan hadiah sekaligus mengunjungi makam kakaknya. Ia akui hadiah dari adik ipar satu-satunya itu selalu mampu mengurangi rasa sedih yang datang setiap tahun diwaktu yang sama.

***

"Mai, Abang pamit ya... Jaga kondisi, jangan terlalu capek beraktivitas." Lelaki berseragam tentara itu membungkuk memeluk tubuh Maimunah dan mencium keningnya.

"Iya Abang, nanti kalo sudah sampai kabari Mai e ... Jang lupa jaga makan Deng minum obat". Maimunah membalas ketika pelukan terlepas dengan wajah sendu. Hampir setahun hidup bersama John tak membuat dialek timurnya hilang.

Pernikahannya memasuki usia 9 bulan dan bayi di rahimnya memasuki trimester kedua. Sebuah anugerah yang luar biasa ia syukuri. Dengan kelamnya masa lalu dan pahitnya kehilangan, Allah mengganti dengan yang indah dimasa ini.

Kehidupan rumah tangganya dengan John mengalir indah hingga saat ini, namun ada tanggung jawab yang harus dilakukan dan tak bisa ditinggal olehnya dan oleh suaminya, yaitu tugas sebagai prajurit bangsa dan ia sebagai seorang istri prajurit harus mendukung penuh, bakti suaminya untuk negara tercinta.

Peristiwa pagi yang akan memberikan efek rindu berkepanjangan pada Maimunah. John harus memenuhi panggilan negara untuk memimpin pasukan ke daerah rusuh yang tak jauh dari tempat asal Maimunah. Kepergiannya memang belum pasti kapan akan kembali, namun Maimunah pasrah dalam do'a untuk keselamatan suaminya di tempat tugas.

Ia hanya berharap, ketika tiba saatnya ia melahirkan buah hati mereka. John diberi kesempatan untuk hadir membersamainya. Meski ia tahu harapan itu bisa saja tak terwujud, Maimunah optimis dan menjauhkan diri dari pikiran yang dapat membebaninya dan janin yang dikandung.

Bersambung.

Oleh: Mardha Umagapi
Ditulis di Subaim Halmahera Timur

Baca Bagian 9 klik disini

Rabu, 16 Oktober 2019

Tidak Rugi Orang Yang Berserah Diri Pada-Nya, Kejutan Dari-Nya Akan Luar Biasa

Kisah Berhikmah

Pertolongan Berujung PadaNya
Bagian 9


Setelah kedatangan John untuk menemuinya dibutik selain berkunjung ke tempat Tantenya, Mimunah tahu satu hal bahwa lelaki itu sedang berusaha untuk memposisikan diri sesuai dengannya. Ada harapan masa depan tergambar di sana, di bola mata kebiruan itu ketika menatap Maimunah.

“Mai, kamu sudah tahu maksud kedatangan John tadi siang ?” Tanya Tante Jenny malam itu ketika Maimunah sedang duduk menulis laporan keungan bulanan butik dikamarnya.

“Belum tante”.  Jawab Maimunah singkat.

Tante Jenny sebenarnya bukan hanya ingin melihat rekapan laporan butik, namun juga ada maksud lain. Sebenarnya Mimunah sudah sedikit paham tentang kedatangan John yang tiba-tiba dan juga perubahan gayanya, namun dihadapan tante ia tidak ingin mengumbar hal itu. Maimunah takut terkesan ge’er oleh wanita keibuan itu, dan juga Maimunah merasa tidak setara dalam hal taraf kehidupan dengan John.

“John pengen melamar kamu Mai”.

Suasana hening sesaat, dan sepertinya Tante Jenny menangkap keraguan pada diamnya Maimunah sehingga ia lanjut berkata: “Dia sudah berislam Mai, jika kamu mau nanti tante lanjutkan pembicaraan ini dengan mamahnya”.

Maimunah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya berat, ia khawatir jika setuju hubungan ini tidak akan bertahan bahkan berlanjut, karena keluarga John tidak seperti Maimunah. Mereka orang berada dan terpandang, bagaimana mungkin memiliki menantu cacat dan gadis desa sepertinya. Tante Jenny terlihat sabar menunggu jawaban dari Maimunah yang tampak menunduk diam mematung.

“Tante, bukan Mai tra mau. Tapi sepertinya Mai merasa tra cocok dengan John.” Ungkapnya sedih dengan logat timur yang kental, mungkin efek sedikit gugup.

Jika bukan karena keadaannya yang cacat seperti ini dan kehidupannya yang bukan orag desa, tentu kesempatan ini tidak akan ditolaknya. Apalagi yang kurang dari John? Lelaki baik dan ringan tangan membantu sesama, penampilan menarik idaman semua wanita ditambah telah seagama dengannya. Namun ia memilih berkaca pada dirinya sendiri yang masih banyak kurang dibanding John, Maimunah takut jika istri yang baik bahkan malah merepotkan.

“Jika yang kamu khawatirkan adalah keluarga kami, keluarga John. Insya Allah kami sudah kenal benar denganmu dan tahu bagaimana kamu. Mamahnya John juga sudah tahu keinginan anaknya dan minta tante untuk tanyakan langsung kepadamu.” Jelas Tante Jenny.

“Kamu masih belum yakin Mai? gimana kalo besok kita liburkan dulu kerjamu dibutik dan kita kunjungi Mamahnya John. Setelah itu kamu boleh mengambil keputusan”
“Gimana?” Lanjutnya.

Maimunah mengangguk mengiyakan, disusul tepukan lembut tante dipundaknya yang kemudian beranjak meninggalkan Maimunah dikamarnya. Termenung.

***
Rumah, bergaya minimalis itu terlihat asri dan rapi, Maimunah dan Tante Jenny melangkahkan kaki masuk ke dalam. Seorang wanita dengan wajah mirip sekali dengan Mita versi tua menyapa mereka, tanpa banyak kata Maimunah langsung tahu bahwa wanita itu adalah ibu John. Sudah berusia lanjut, namun masih segar dan terurus meski keriput telah menutupi wajah namun gurat kecantikan muda masih ada. Tante Jenny berpelukan, saling sapa dan tanya kabar maklum mereka satu kota tapi jarang ketemu apalagi tante Jenny yang punya banyak kesibukan. Maimunah menyambut uluran tangan wanita itu menyalami dengan membungkuk meletakkannya dihidung.

“Ini Maimunah ya?”

“Saya Mamahnya John, John banyak cerita tentang kamu”. Kata wanita itu.

“Iya tante. Terima kasih sudah mengizinkan John membantu saya”. Maimunah berkata takzim dan menunduk.

“Panggil Mamah aja, biar lebih dekat. Menurut kamu John orangnya gimana?”

“Baik Tante, eh mamah”. Jawab Maimunah dengan nada canggung yang diiringi tawa Mamah John dan tante Jenny.

Bersambung.

Oleh: Mardha Umagapi


Ditulis di subaim Halmahera Timur

Baca Bagian 8 klik disini

Selasa, 15 Oktober 2019

Kematian Adalah Nasihat Terbaik Bagi Manusia, Jika Ia Sadar

Kisah Berhikmah

Mengenang Kasih Sepanjang Masa
Bagian 3

"Halo, masih di rumah sakit kah?"

"Mama Ima, pung kondisi sekarang bagimana?"
(Kondisi mama Ima [nama panggilan ibuku oleh para sepupu]sekarang bagaimana?)

Pukul 2 malam, terdengar bapak kembali menelepon keluarga dirumah sakit untuk menanyakan kondisi ibu, namun masih seperti awal masuk ICU.

"Kalo so manganto pi tidur sudah, so lat ini".
(Kalau sudah ngantuk tidurlah, ini sudah larut.)

Bapak memintaku untuk istirahat dan tidur, aku menurutinya karena rasa kantuk sudah mulai menyerangku sedangkan bapak kulihat tidak sedikit pun mengantuk.

Beliau pergi berwudhu untuk sholat dan aku menuju kamar untuk tidur. Meskipun mengantuk, dikamar wajah dan senyuman ibu masih terbayang di mataku, dalam hati kuucapkan sebait do'a agar Allah memberikan kebaikan untuknya dan mengangkat rasa sakit yang ada padanya. Kuulang-ulangi do'a untuk ibu hingga mata terpejam karena kantuk.

Adzan subuh berkumandang, bapak berseru dari luar kamar memanggilku agar sholat. Aku bangun dan tidak lupa menanyakan kabar terbaru dari rumah sakit, bapak bilang masih sama kondisi ibu saat ini. Kami pun sholat shubuh, bapak ke mesjid dan aku dirumah.

Pulang dari mesjid bapak hendak menelpon kerumah sakit, tapi HP bapak sudah ada panggilan tak terjawab dari sana. Bapak menelepon kembali.

"Bagaimana kondisi disitu?" Bapak memulai percakapan ditelepon yang telah tersambung.

Tidak kudengar suara jawaban dari seberang, karena bapak tidak mengaktifkan loundspeaker.

"Dari kapan ? apa waktu se telepon tadi kah?"
(Sejak kapan? Apakah waktu kamu menelepon tadi?).
Kudengar suara bapak bergetar seperti menahan sesuatu beban yang berat. Namun aku masih tenang, karena memang tidak mendengar percakapan lengkapnya.

"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un" Bapak menarik napas berat ketika mengucapkannya.

Saat itulah aku mulai menyadari kejadian sebenarnya diseberang sana. Ku tatap wajah bapak yang masih melanjutkan percakapan dengan sepupu di telepon. Sambil menunggu bapak menyampaikan berita itu langsung kepadaku.

"Bagaimana mama pe keadaan, pa ? Sapa yang papa kase Inna lillahi ?"
(Bagaimana keadaan mama, pa? Papa menyebut Inna lillahi untuk siapa?. Tak sabar kutanyakan ke bapak setelah sambungan telepon ditutup.

"Mama so pigi kse tinggal Torang, dari jam 5 tadi"
(Mama sudah pergi meninggalkan kita, sejak jam 5 tadi)
Bapak mengabariku dengan mata berkaca-kaca.

"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un". Hanya kalimat Thaiyibah itu yang sanggup keluar dari mulutku.

Berita itu terasa seperti pisau yang menghujam jantungku,antara percaya dan tidak namun terasa begitu sakit. Dalam ingatan ini terbayang semua tentang ibuku berharap ini hanya sebuah kesalahan informasi. Namun kenyataannya memang ibu telah pergi meninggalkan kami semua lebih dulu menghadapNya.

Hari itu kami tidak bisa langsung kembali ke daerah tempat tinggal kami karena jadwal kapal yang akan kami tumpangi masih dua hari lagi, bapak mencari alternatif lain dengan pesawat namun hanya ditemukan satu tiket tersisa.

Bapak lebih dulu berangkat, sedangkan aku harus menunggu dua hari lagi untuk bisa kembali bersama-sama kakak pertama yang bekerja dipulau kelahiranku yang satu kabupaten dengan tempat lahir ibuku.

Melihat bapak berangkat ke Bandara untuk naik pesawat seorang diri dan kami tak berdaya untuk ikut bersama melayat jenazah ibu, rasanya seperti ingin menutup mata dan menghilang dengan harapan ketika mata terbuka diri ini sudah membersamai jenazah ibu disana. Tapi apalah daya, aku hanya bisa menunggu jadwal keberangkatan kapal agar bisa kembali kedaerah tempat tinggal kami.

Perasaan kehilangan yang hebat adalah ketika orang yang kita sayangi selama hidup kita meninggal dunia dan kita tidak dapat hadir dan mengikuti semua proses pemakamannya, hanya informasi lewat telepon yang bisa diandalkan untuk mengetahui proses itu.

Semua proses pemakaman dilaporkan oleh sepupu disana via telepon, dan selama itu hanya bisa mendengar serta tak henti-hentinya berdo’a dalam deraian air mata agar Allah mengampuni semua kesalahan ibu serta menerima semua amal kebaikannya.

“Maafkan anakmu ini ibu, jika selama hidupmu aku belum mampu menjadi putri yang baik seperti harapanmu. Akan selalu kuingat kenangan selama 18 tahun bersamamu dan semua nasihat kebaikan yang selalu kau sampaikan dalam hidupku. Selamat jalan ibu semoga kita diperkenankan Allah Ar Rahman untuk berkumpul di syurganya kelak".

Hingga saat ini peristiwa kepergian ibu menyisakan banyak hal dalam hidup kami
sekeluarga. Bapak yang seperti kehilangan separuh jiwanya, kakak yang kehilangan arah
pulang dan aku yang penuh sesal. Saat akhir hayatnya, diri ini tak bisa mendampingi dan mengantarnya dengan talqin dari bibirku serta membasuh tubuhnya terakhir kali sebagai putri satu-satunya.

Namun semua rasa itu tak akan menutup pikiran kami bahwa semua hal yang terjadi dimuka bumi ini terjadi atas kehendak-Nya, Allahu Rabbul Aalamiin.

Selesai

Oleh: Mardha Umagapi

Baca bagian 1 klik disini
Baca bagian 2 klik disini

Berusaha Mengendalikan Hawa Nafsu: Tadabbur An Nazi'at Ayat 40-46

  Ciri-ciri Penghuni Surga 1. Takut pada Allah 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Terlibat dalam dakwah وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَ...